Penyandang Disabilitas Harapkan Pendamping saat Berobat Ke Rumah Sakit

Di tengah keterbatasannya, para penyandang disabilitas tetap ingin melakukan kegiatan yang sama seperti masyarakat lainnya

Penyandang Disabilitas Harapkan Pendamping saat Berobat Ke Rumah Sakit
WARTA KOTA/RANGGA BASKORO
Yogi Madsoni (46), satu warga Jakarta yang merupakan tuna netra. 

Di tengah keterbatasannya, para penyandang disabilitas tetap ingin melakukan kegiatan yang sama seperti masyarakat lainnya.

Namun demikian, kadang kala mereka tetap membutuhkan pendampingan saat berada di tempat umum.

Yogi Madsoni (46), satu warga Jakarta yang merupakan tuna netra mengatakan salah satu kendala yang ditemui para penyandang disabilitas yakni saat mereka hendak berobat ke rumah sakit atau Puskesmas.

Masalah akses pengobatan yang dikeluhkan Soni bukan jarak dari rumahnya menuju Puskesmas, tapi pelayan bagi penyandang disabilitas.

"Seharusnya ada tenaga khusus untuk melayani penyandang disabilitas yang mau berobat ke Puskesmas. Jadi ada orang yang mengerti cara penyandang disabilitas berkomunikasi," kata Soni di Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (26/6/2019).

Hal itu dibutuhkan saat mereka hendak melakukan antrean di rumah sakit. Sering kali para penyandang disabilitas kebingungan lantaran tak mengetahui alur pendaftaran di rumah sakit maupun puskesmas.

Wali Kota Jakut Jenguk PPSU Cantik yang Alami Kecelakaan di RSUD Koja

Vonis Hakim Telah Dijatuhkan, Sabtu Ini Vanessa Angel Bakal Keluar dari Penjara Medaeng

Kilas Balik Mindo Tampubolon, Terpidana Seumur Hidup Jadi Buron dan Kini Ditangkap Jaksa di Lampung

"Enggak perlu loket khusus atau bagaimana, cukup satu orang yang mampu mengerti kebutuhan penyandang disabilitas. Kan kita punya hak untuk akses kesehatan juga seperti yang lain," harap dia.

Masalah lainnya terkait cara berkomunikasi para dokter kepada para penyadang disabilitas. Dia mencontohkan pengalaman temannya yang merupakan tuna rungu saat ingin berkonsultasi terkait pemasangan alat kontrasepsi agar tak sampai menambah anak.

Kala itu dokter Puskesmas memperagakan cara memasang alat kontrasepsi yang dipasang ke jari tangan untuk mencegah istri temannya hamil.

Namun karena masalah komunikasi, teman Soni yang merupakan tuna rungu mengartikan bahwa dia harus memasang alat kontrasepsi di tangannya ketika berhubungan.

Halaman
12
Penulis: Rangga Baskoro
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved