BNN Fokus Lindungi Milenial dari Narkoba

Badan Narkotika Nasional (BNN) saat ini tengah fokus untuk melindungi para generasi milenial dari bahaya narkoba. Penyebabnya adalah para pengedar

BNN Fokus Lindungi Milenial dari Narkoba
Istimewa
Kepala BNN Komjen Pol Heru Winarko saat memberikan keterangan kepada wartawan warta kota di gedung Tribrata, Jakarta, Selasa (25/6/2019) Warta Kota/Feri Setiawan 

WARTA KOTA,JAKARTA - Badan Narkotika Nasional (BNN) saat ini tengah fokus untuk melindungi para generasi milenial dari bahaya narkoba. Penyebabnya adalah para pengedar menjadikan generasi muda sebagai target pasarnya.

"Dari hasil survey BNN, dalam dua tahun ini telah bergeser peredaran narkoba, yakni lebih mengincar generasi muda. Ini mengkhawatirkan, karena itu kami telah membuat langkah-langkah pencegahan," kata Kepala BNN, Komjen Heru Winarko, di Gedung Tri Brata, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (25/6).

Heru mengatakan bahwa peredaran narkoba yang begitu masif telah terjadi di Indonesia. Hal tersebut terlihat dari hasil penelitian BNN bersama Puslitkes UI 2017 yang menunjukan bahwa angka prevalensi penyalahgunaan narkoba adalah sebesar 3,3 juta jiwa dengan rentang usia 10-59 tahun.

"Yang berarti merupakan usia produktif di mana 27,32 persen di antaranya adalah pelajar yang saat ini dapat digolongkan sebagai generasi milenial," jelasnya.

Oleh sebab itu, BNN terus melakukan berbagai upaya untuk dapat menyelamatkan generasi milenial. Yang merupakan aset masa depan bangsa dengan strategi yang sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Selain itu, Heru menjelaskan bahwa terdapat tiga kelompok pengguna narkoba. Pertama adalah current user, yaitu pengguna yang mengonsumsi narkoba hanya sesekali. "Sekali dalam satu atau dua bulan. Hanya saat berkumpul dengan teman-temannya. Tapi jumlahnya ini mencapai 57 persen," jelas Heru. Namun pada current user itu, lanjutnya, rata-rata mereka adalah para milenial.

Kemudian yang kedua adalah pengguna rekreasional. Mereka mengonsumsi rutin semingu sekali atau dua kali, terdapat 27 persen pengguna. Lalu, ketiga adalah pengguna addict sebanyak 16 persen. Merupakan pengguna akut yang sudah cukup sulit untuk disembuhkan. Sisanya, pengguna bermacam-macam tipe lainnya.

"Milenial sangat rentan. Kalau bandar melihat milenial itu sebagai target utama. Karena kalau milennial jadi pemakai rentan, dimana usianya masih panjang," jelasnya.

Mereka juga masih mudah mempengaruhi teman-temannya. Sehingga bandar bisa mengekspansi memasarkan barang haramnya. "Sekarang modusnya, narkoba ini bukan hanya sabu, morfin, ekstasi, ganja, dan lainnya. Tapi sekarang juga sudah yang bernama NPS (new psychoactive substances) atau narkotika jenis baru," jelasnya.

Di Indonesia, lanjutnya, terdapat 74 jenis NPS di antaranya PCC, ganja gorilla, tramadol, dan lainnya. Para bandar, kata Heru, NPS banyak dikonsumsi karena harganya yang murah. Sehingga bisa terjangkau dengan para pelajar. "Anak-anak bisa membelinya dengan menggunakan uang jajan mereka, karena harganya hanya Rp 3.000 sampai Rp 4.000. Ini yang mengkhawatirkan," katanya.

Apalagi, lanjutnya, prevalensi pengguna anak muda telah mencapai 2,2 persen dari sebelumnya yang hanya 1,7 persen. "Misalkan, dari 100 orang, ada anak muda pengguna narkoba sebesar 2,2 persen," katanya.

Adapun beberapa daerah yang masuk dalam kategori rawan atau kampung narkotika di antaranya Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Kepri, Riau, Sulteng, Kalbar, Sumsel, Sumut, dan Aceh. Namun, jenis narkoba yang digunakan berbeda di tiap daerah. "Kalau Jakarta, biasanya sabu dan ekstasi, Bogor lebih banyak pengguna ganja, Bandung banyak gunakan obat, seperti tramadol dan PCC. Bahkan di Aceh, yang kerap ditemukan ladang ganja, pengguna lebih banyak memakai sabu," jelasnya.

Modus peredaran narkoba sendiri, kini juga bermacam-macam. Karena NPS bisa berbentuk liquid, powder, atau cairan. Tak heran jika narkoba itu banyak ditemukan bercampur dengan makanan. "Karena itu mereka juga bisa memasukkannya di makanan sekolah-sekolah. Kami sudah minta agar penjual makanan harus terdaftar," katanya.

Jalur laut
Penyelundupan narkotika ke Indonesia, menurut Heru, sampai dengan saat ini sekitar 80 persen masih dilakukan melalui jalur laut.

Narkoba tersebut berasal dari Tiongkok, Malaysia, India, golden triangle (Thailand, Vietnam, Kamboja), Timur Tengah (Qatar, UEA, Iran, Suriah), golden crescent (Afganistan, Pakistan, Inggris, Turki, golden peacock (Amerika).

"Berdasarkan data yang dimiliki BNN pada tahun 2018, BNN telah mengungkap sebanyak 967 kasus tindak pidana narkotika. Dengan total barang bukti 3,4 ton shabu; 1,39 ton ganja; 469.619 butir ekstasi dan lain sebagainya," jelasnya.

Untuk dapat mencegah penyelundupan narkoba ke wilayah Indonesia, lanjutnya, maka harus memutus jalur peredaran gelap narkotika sejak di luar negeri. Baik di negara produksi maupun negara transit.

"Hal tersebut dapat dilakukan BNN apabila mendapatkan informasi, oleh karenanya Kepala BNN melakukan pendekatan active defense dengan melakukan kunjungan ke beberapa negara. Untuk dapat membangun sistem dan kerja sama khususnya dalam pertukaran informasi. Selain itu, BNN juga berharap ke depan akan ada 'diplomat-intelejen narkoba' di beberapa negara," jelasnya.

Heru pun menegaskan, bahwa, BNN melakukan berbagai strategi untuk terus memberantas penyelundupan dan peredaran gelap narkotika. Dengan mengacu pada balance approace atau kebijakan berimbang melalui P4GN.

"Berbagai strategi di antaranya pada bidang pencegahan dengan membangun sistem dan kemampuan masyarakat menjaga diri, keluarga maupun lingkungannya," jelasnya.

Pada bidang pemberantasan, dengan memperkuat kerja sama, mencegah narkotika dari luar negeri masuk dengan pendekatan active defense. Kemudian memaksimalkan penindakan pada peredaran serta TPPU dari tindak kejahatan narkotika

"Pada bidang rehabilitasi yaitu dengan membangun sistem rehabilitasi yang komprehensif dan terus memperbaiki kualitas layanan rehabilitasi," jelasnya. (Adv/suf)

Editor: Andy Prayogo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved