Depok Makin Sesak karena Warganya Doyan Bikin Anak dan Pendatang Terus Melonjak

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, saat ini jumlah penduduk Kota Depok telah melonjak menjadi 2.254.513 orang.

Depok Makin Sesak karena Warganya Doyan Bikin Anak dan Pendatang Terus Melonjak
Wartakotalive.com/Gopis Simatupang
Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna. 

DEPOK, WARTAKOTALIVE.COM -- Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Depok, jumlah penduduk kota Depok pada semester I tahun 2017 adalah 1.809.120 penduduk.

Dalam periode yang sama tahun 2018, jumlah penduduk Kota Depok naik menjadi 1.838.671 orang.

Sedangkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, saat ini jumlah penduduk Kota Depok telah melonjak menjadi 2.254.513 orang.

Dengan luas wilayah 202 kilometer persegi, tingkat kepadatan penduduk Kota Depok mencapai sekitar 11.000 per kilometer per segi.

Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna, mengakui bahwa laju pertumbuhan penduduk di Kota Depok memang tinggi, mencapai 3,5 persen.

Laju pertumbuhan itu terdiri dari angka kelahiran yang mencapai 2,1 persen atau sekitar 44.000 anak pertahun, serta angka perpindahan penduduk (masuk ke Depok) sekitar 1,3 persen atau kira-kira 28.000 pendatang pertahun.

"Memang idealnya untuk menekan angka kelahiran di kita yang tinggi, di atas 2,1 saya rasa dengan luas Kota Depok yang terbatas, nampaknya untuk ke depan akan jadi perhatian," ujar Pradi kepada Warta Kota di kawasan Pancoran Mas, Kota Depok, kemarin.

Dikatakan Pradi, laju pertumbuhan penduduk Kota Depok jauh lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan penduduk secara nasional, yang menurut BPS, ada di angka 1,1 persen.

Selain berencana menekan angka kelahiran, pihaknya juga memikirkan cara untuk menekan laju urbanisasi pendatang ke Kota Depok.

"Bayangkan kalau angka pertumbuhan penduduk itu 3,5 atau 3,6 persen ya, sementara angka kelahiran kita antara 2,1 atau 2,2 persen misalkan. Berarti kan cukup tinggi, selisihnya sekitar 1,3 persen. Itu kan hampir sama dengan angka pertumbuhan nasional," kata Pradi.

"Itulah kemarin kenapa saya himbau kalau mau bawa sahabat, bawa teman (dari kampung ke Depok), kalau bisa yang punya kemampuan, punya kompetensi sesuai dengan yang dibutuhkan di kita," terang Pradi.

Dia menegaskan bahwa pihaknya tidak melarang siapa pun untuk tinggal dan mencari nafkah di Depok.

Namun, akan lebih baik pendatang memiliki kompetensi agar tidak menjadi beban bagi kota penyangga DKI Jakarta itu, karena angka pengangguran di Depok pun sudah tinggi, sekitar 6,6 persen.

Merujuk data BPS pada 2018, sekitar 72.000 angkatan kerja di Kota Depok menganggur, meski tingkat pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, sekitar 6,7 persen.

"Makanya kemarin saya mengingatkan para urban untuk punya kemampuan. Bukan tidak boleh (datang), silakan saja. Tapi jangan pada akhirnya nanti jadi beban. Kalau kaum urban yang datang ke Depok tidak punya kompetensi, ya beban kita akan semakin berat. Bisa-bisa menurun nanti pertumbuhan ekonominya," bilang Pradi.

Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved