Lakon Drama Wayang Sang Penjaga Hati Tampil Sukses Memukau Penonton

Anak-anak muda yang terlibat dalam proses, ikut mengapresiasi dan semakin memahami budaya Indonesia, melalui bentuk seni pertunjukan

Lakon Drama Wayang Sang Penjaga Hati Tampil Sukses Memukau Penonton
dok sanggar swargaloka
Sanggar Swargaloka yang peduli pada kesenian tradisional sukses menggelar pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk, Sang Penjaga Hati, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019). 

 WARTA KOTA, SAWAH BESAR  -------  Sanggar Swargaloka yang beranggotakan para seniman muda berbakat yang peduli pada kesenian tradisional, menggelar pentas Drama Wayang yang mengambil lakon, Sang Penjaga Hati, yang diadakan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019).

Sanggar Swargaloka yang peduli pada kesenian tradisional sukses menggelar pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk, Sang Penjaga Hati, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019).
Sanggar Swargaloka yang peduli pada kesenian tradisional sukses menggelar pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk, Sang Penjaga Hati, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019). (dok sanggar swargaloka)

Sejumlah seniman, budayawan dan beberapa mantan birokrat ikut menyaksikan pertunjukan ini, antara lain : Romo F.X. Mudji Sutrisno, Muhamad Sobari, Deddy Mizwar, Tarzan, Nungki Kusumastuti, Ir. H. Erman Soeparno, MBA MSi* (politikus, mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI), Eny Sulistyowati (Triardhika Production), serta beberapa pejabat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sanggar Swargaloka yang peduli pada kesenian tradisional sukses menggelar pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk, Sang Penjaga Hati, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019).
Sanggar Swargaloka yang peduli pada kesenian tradisional sukses menggelar pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk, Sang Penjaga Hati, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019). (dok sanggar swargaloka)

Pada kesempatan itu pertunjukan lakon Sang Penjaga Hati” berhasil mengolah bentuk dan ruang artistik pertunjukan, melalui lakon wayang sebagai basis penciptaan karya. Tim kesenian ini berhasil membuat lintasan tradisi dan non tradisi menjadi satu kesatuan yang utuh dalam dialektika kreatif.

Dari segi penyutradaraa), keaktoran, koreografi, tata panggung; pencahayaan, dan properti, serta penciptaan karakter melalui tata kostum yang terukur berhasil mengantarkan pertunjukan ini mencapai kualitas karya monumental (26 tahun Sanggar Swargaloka berkarya).

Sanggar Swargaloka yang peduli pada kesenian tradisional sukses menggelar pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk, Sang Penjaga Hati, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019).
Sanggar Swargaloka yang peduli pada kesenian tradisional sukses menggelar pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk, Sang Penjaga Hati, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019). (dok sanggar swargaloka).

Sang Penjaga Hati, diproduksi Sanggar Swargaloka Jakarta. Disutradarai, Bathara Saverigadi Dewandoro, yang juga bertindak sebagai koreografer, serta menjadi tokoh utama lakon, berperan sebagai Narasoma.

Karya ini diperkuat para aktor-aktris panggung dedikatif, yang cukup lama berperan dalam khasanah seni Wayang Orang, antara lain; Agus Prasetyo (Salya), Ali Marsudi (Puntadewa),_ Achmad Dipoyono (Bagaspati), dan Dewi Sulastri (Setyawati) dan didukung ratusan seniman muda berbasis seni tradisi yang tergabung di Sanggar Swargaloka Jakarta.

Sanggar Swargaloka yang peduli pada kesenian tradisional sukses menggelar pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk, Sang Penjaga Hati, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019).
Sanggar Swargaloka yang peduli pada kesenian tradisional sukses menggelar pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk, Sang Penjaga Hati, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019). (dok sanggar swargaloka).

Karya ini juga didukung kepiawaian komposer muda Gregoriyanto Kris Mahendra, sebagai penata musik. Keunikan instrumen musik yang digunakan (tradisi dan modern) berhasil mendinamisir dan membangun imaji penonton untuk larut ke dalam pesan yang ingin disampaikan.

Sanggar Swargaloka berhasil mengantarkan, Sang Penjaga Hati menjadi sebuah seni pertunjukan multimedia (visual art, tari, music, dan sastra) kaya tafsir dan sukses memberi ruang edukasi bagi anak-anak muda yang terlibat dalam proses, ikut mengapresiasi dan semakin memahami budaya Indonesia, melalui bentuk seni pertunjukan yang menghibur, dan atraktif.

Sanggar Swargaloka yang peduli pada kesenian tradisional sukses menggelar pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk, Sang Penjaga Hati, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019).
Sanggar Swargaloka yang peduli pada kesenian tradisional sukses menggelar pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk, Sang Penjaga Hati, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019). (dok sanggar swargaloka)

“Drama Wayang akan terus berevolusi untuk menemukan format yang tepat agar layak mendapat predikat opera terbaik dunia. Oleh karena itu, kami memerlukan kritik dan saran agar kami terus termotivasi menjadi lebih baik,” terang Pendiri Yayasan Swargaloka, Suryandoro, dalam siaran persnya yang diterima Wartakotalive.com, di mana pergelaran ini menjadi kado istimewa peringatan Ulang Tahun Ke-53, bagi seniman serba bisa ini.

Satu hal menjadi minus pertunjukan ini adalah sistem audio kerap putus-nyambung, kemudian mengganggu emosi aktor dan aktris serta merusak artikulasi dialog yang kurang tersimak. Namun secara umum pertunjukan ini berhasil menghipnotis penonton.

Sanggar Swargaloka yang peduli pada kesenian tradisional sukses menggelar pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk, Sang Penjaga Hati, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019).
Sanggar Swargaloka yang peduli pada kesenian tradisional sukses menggelar pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk, Sang Penjaga Hati, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin (17/6/2019). (dok sanggar swargaloka)

“Sang Penjaga Hati” berkisah tetang sang penjaga hati, _ Dewi Setyawati_ menemani kemanapun kekasih hatinya Narasoma mencari kesejatian hidup. Karena cinta pula Setyawati harus terpisah selamanya dengan _Bagaspati, ayahnya. Karena cinta pula Narasoma merelakan Dewi Madrim adik semata wayangnya harus terpisah dengannya, dan melepaskan ke tangan Pandu._

Pengorbanan mendalam adalah ketika Narasoma harus meninggalkan Dewi Setyawati ke medan laga. Perang bharatayuda telah memanggil ksatria Mandaraka yang sudah tidak muda itu turun ke gelanggang payudan demi Pandawa. Semua ini dilakukannya demi cinta untuk sang penjaga hati

Penulis: Nur Ichsan
Editor: M Nur Ichsan Arief
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved