Breaking News:

Histori

Asal Muasal Kota Salatiga Sering Diplesetkan Salah Tiga, Kejadian Ini Berkaitan Sama Wali Songo

Gerbang tol Salatiga dengan latar belakang pegunungan membuat terkagum-kagum. Jadi penasaran Kota Salatiga artinya ada 3 kesalahankah?

Editor: Dian Anditya Mutiara
Instagram Ganjar Pranowo
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan Tol Bawen Salatiga masih kurang 500 meter yang sedang dikebut pengerjaannya dan diharapkan bisa dioperasikan untuk Mudik Lebaran 2017. 

Berdasarkan prasasti di Dukuh Plumpungan, Desa Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, maka Salatiga sudah ada sejak tahun 750 Masehi, pada waktu itu Salatiga merupakan perdikan.

Perdikan artinya suatu daerah dalam wilayah kerajaan tertentu. Daerah ini dibebaskan dari segala kewajiban pajak atau upeti karena daerah tersebut memiliki kekhususan tertentu, daerah tersebut harus digunakan sesuai dengan kekhususan yang dimiliki.

Wilayah perdikan diberikan oleh Raja Bhanu meliputi Salatiga dan sekitarnya. Menurut sejarahnya, di dalam Prasasti Plumpungan berisi ketetapan hukum, yaitu suatu ketetapan status tanah perdikan atau swantantra bagi Desa Hampra.

Pada zamannya, penetapan ketentuan Prasasti Plumpungan ini merupakan peristiwa yang sangat penting, khususnya bagi masyarakat di daerah Hampra.

Penetapan prasasti merupakan titik tolak berdirinya daerah Hampra secara resmi sebagai daerah perdikan atau swantantra.

Prasasti Plumpungan
 
Prasasti Plumpungan

WASPADA, Bahaya Mengintai Anda yang Suka Lama di Kamar Mandi Sambil Main Hape, Pria Ini Pingsan

Desa Hampra tempat prasasti itu berada, kini masuk wilayah administrasi Kota Salatiga. Dengan demikian daerah Hampra yang diberi status sebagai daerah perdikan yang bebas pajak pada zaman pembuatan prasasti itu adalah daerah Salatiga sekarang ini.

Konon, para pakar telah memastikan bahwa penulisan Prasasti Plumpungan dilakukan oleh seorang citralekha (penulis) disertai para pendeta (resi).

Raja Bhanu yang disebut-sebut dalam prasasti tersebut adalah seorang raja besar pada zamannya yang banyak memperhatikan nasib rakyatnya. Isi Prasasti Plumpungan ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sanskerta.

7 DAFTAR KECURANGAN Paslon 01 Dibongkar Pengacara Prabowo, dari Harta Jokowi sampai Buzzer Polisi

Jokowi Beri Kenaikkan Gaji PNS, THR dan Gaji Ke-13, Bambang Widjojanto Sebut Langgar Pemilu 2019

Sempat Dikritik Pakaiannya, Kaesang Pangarep Komentari Celana Cikrang Jubir BPN, Ditanggapi Ini

Tulisannya ditatah dalam petak persegi empat bergaris ganda yang menjorok ke dalam dan keluar pada setiap sudutnya.

Dengan demikian, pemberian tanah perdikan merupakan peristiwa yang sangat istimewa dan langka, karena hanya diberikan kepada desa-desa yang benar-benar berjasa kepada raja.

Untuk mengabadikan peristiwa itu maka raja menulis dalam Prasasti Plumpungan Srir Astu Swasti Prajabhyah, yang artinya "Semoga Bahagia, Selamatlah Rakyat Sekalian". Ditulis pada hari Jumat, tanggal 24 Juli tahun 750 Masehi. (Gloria Setyvani)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Mudik ke Salatiga, Penamaan Kota Ini Ternyata Akibat 3 Kesalahan

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved