Lebaran

Kisah Pejuang Nafkah di Hari Raya, Baru Mudik Lebaran Jika Stasiun Pasar Senen Sepi

Pria bertubuh tambun ini berdiri di antara ribuan pemudik di Stasiun Senen, Jakarta Pusat, Jumat (7/6/2019).

Kisah Pejuang Nafkah di Hari Raya, Baru Mudik Lebaran Jika Stasiun Pasar Senen Sepi
TRIBUNNEWS/DENNIS DESTRYAWAN
Kaslan (42), porter di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Jumat (7/6/2019). 

Bahkan, tak jarang dari mereka menggunakan jasa para porter yang tersedia di Terminal Kampung Rambutan.

Bisa jadi sebagian mereka adalah perantau yang kembali ke Jakarta, seusai berlebaran di kampung halaman.

 Kemenhub Duga Penumpang Pesawat Beralih ke Mobil Pribadi Atau Kereta Saat Mudik Lebaran Tahun Ini

Ahmad, pria bertopi, tampak sedang berjalan bersama seorang kawannya di depan jalan ke luar 'Pintu Kedatangan'.

Sembari menjinjing dua kardus di masing-masing tangannya, dirinya sedang menunggu istrinya yang sedang ke toilet.

Ahmad mengatakan baru pulang dari Bogor, Jawa Barat. Katanya, diperlukan waktu sekitar 1,5 jam untuk tiba kembali di Jakarta.

 Susi Pudjiastuti Siap Jadi Menteri Lagi Asalkan Penuhi Dua Syarat Ini

"Saya tadi sampai pukul 15.15 WIB. Perjalanan kurang lebih 1,5 jam," kata Ahmad.

Jakarta sudah menjadi kota Ahmad selama 7 tahun terakhir dalam mencari nafkah.

Dia merantau ke Jakarta karena telah mendapatkan pekerjaan.

 Kronologi Bentrok Antar Warga Desa di Buton, Konvoi Sepeda Motor Picu Tawuran

Ahmad bekerja sebagai teknisi pada salah satu perusahaan otomotif di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Waktu itu, ceritanya, serangkaian tes yang digelar di Bogor ia jalani.

"Saya waktu itu interview di Bogor, ke Jakarta karena memang lolos tes dan diterima bekerja," tutur Ahmad.

 Tak Yakin Empat Pejabat Nasional Jadi Target Pembunuhan, Fadli Zon: Jangan Mengalihkan Isu!

Pemprov DKI Jakarta sebelumnya memperkirakan sekitar 71 ribu orang akan datang seusai Lebaran 2019.

Lembaga itu juga mengimbau agar perantau baru memiliki keterampilan dan keahlian saat mengadu nasib di ibu kota.

Sempat Meninggalkan Keluarga

Yogi juga berbagi kisahnya sebagai perantau.

Pemudik asal Bogor, Jawa Barat ini merantau ke Jakarta sejak 1999.

Dia memilih ke ibu kota karena memang sangat butuh pekerjaan.

 Ini Daftar Lokasi Lihat Bulan dan Urutan Proses Sidang Isbat Penetapan 1 Syawal 1440 Hijriah

Di kampungnya saat itu, menurut Yogi, tidak ada yang menjanjikan. Sementara, ada keluarga yang harus dinafkahi.

Oleh karena itu, dia nekat ke Jakarta dengan terpaksa meninggalkan seorang istri dan kedua anaknya.

"Saya waktu itu nekat saja, di kampung enggak ada apa-apa. Makanya saya ke Jakarta, itu tahun 1999," ungkap Yogi.

 Emak-emak Ini Menangis Kegirangan Bisa Bertemu Jokowi, Mimpinya Sebulan Lalu Langsung Terwujud

Berbekal informasi dari sejumlah teman, Yogi berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai sopir seorang pengacara.

Pekerjaan itu ia lakoni hingga saat ini.

Ketika sudah mendapatkan hidup yang dinilainya enak, Yogi lantas memboyong istri dan keluarganya ke Jakarta.

 Asal Mula Senjata yang Diduga Diselundupkan Soenarko Versi Kuasa Hukum

Hal itu terjadi lima tahun seusai kedatangannya di Jakarta.

Penghasilan sebagai sopir pribadi, tutur Yogi, sudah mencukupi hidup sekeluarga.

Bahkan, katanya, dengan raut wajah bahagia, kedua anaknya dapat lulus kuliah di Jurusan Perhotelan.

 Mantan Kasum TNI: Saya dan Soenarko Sudah Siap Enggak Bisa Masuk Surga karena Berjuang demi Negara

"Dua anak saya enggak ikut (ke kampung), mereka sekarang lagi kerja di hotel," jelas Yogi.

Sementara, Wati, wanita berjaket jin dengan tas besarnya, langsung bergegas mencari tempat istirahat ketika melintasi pintu kedatangan.

Dia mengatakan perjalanan ke Jakarta ditempuh dalam waktu 1,5 jam.

 Jokowi Lebaran di Jakarta, Lalu Mudik ke Solo Setelah Open House di Istana

Dia memiliki kampung halaman di Bogor, Jawa Barat. Berangkat pada pukul 13.45 WIB tepat hari ini, dirinya baru tiba di Terminal Kampung Rambutan pada hari ini pukul 15.15 WIB.

"Perjalanan 1,5 jam. Dari jam 1 siang sampai jam 3," cerita Wati.

Berbeda dengan kedua orang di atas, kisah Wati di Jakarta masih 'seumur jagung'.

 Polisi Tangkap Empat Perusak Mobil Brimob Saat Kerusuhan Aksi 22 Mei, Ada Beberapa Senjata Dicuri

Tahun ini, katanya, merupakan bulan ke-17 dirinya bekerja di Jakarta sebagai perawat.

Dia menambahkan, kepulangannya hari ini juga dikarenakan harus masuk bekerja.

Wati bertugas sebagai perawat di Rumah Sakit Fatmawati.

 Kuasa Hukum Pertanyakan Kehadiran Anggota BIN dan BAIS Saat Pemeriksaan Soenarko

Bisa jadi kisah ketiganya gara-gara tertarik dengan impian bekerja di ibu kota.

Mereka memutuskan merantau dari kampung halaman ke Jakarta.

Terkait hal itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebelumnya menyatakan semua warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan di manapun, termasuk ibu kota.

 Kuasa Hukum Bekas Danjen Kopassus Soenarko: Selundupkan Senjata Masa Cuma Satu? Itupun Sudah Busuk

Setelah Lebaran 2019, warga dari daerah lain yang datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, akan dilayani dengan tangan terbuka.

"Semua warga negara punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan di mana saja," ujar Anies Baswedan beberapa waktu lalu.

Anies Baswedan tidak mempermasalahkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) para pencari kerja.

 Kuasa Hukum Pertanyakan Kehadiran Anggota BIN dan BAIS Saat Pemeriksaan Soenarko

Menurutnya, KTP hanya soal pencatatan kependudukan belaka.

Yang terpenting, bagi Anies Baswedan, bagaimana menjamin hak-hak dasar warga negara, termasuk untuk mendapatkan pekerjaan. (Dennis Destryawan)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved