Aksi Terorisme

Setiap Hari Kerjaan Bomber Kartasura Rakit Bom di Kamar Tidur dan Latihan Meledakkannya di Sawah

ROFIK Asharudin (22), pelaku bom bunuh diri di Pospam Kartasura, merakit bom di kamar tidurnya.

Setiap Hari Kerjaan Bomber Kartasura Rakit Bom di Kamar Tidur dan Latihan Meledakkannya di Sawah
TribunSolo.com/Istimewa/Asep Abdullah Rowi
Foto pelaku usaha bom bunuh diri di Pos Pengamanan Kartasura, Rofik Asharudin. (Kanan) Foto saat Rofik tergeletak seusai meledakkan diri. 

Tito Karnavian mengatakan, kesimpulan sementara yang diambil oleh kepolisian, aksi yang dilakukan oleh RA itu termasuk dalam aksi lone wolf.

"Nah, dalam kasus ini sampai hari ini, kesimpulan kita sementara sudah mendekati 90 persen ya bahwa itu adalah lone wolf," ujar Tito Karnavian setelah Salat Id di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (5/6/2019).

Ia menyebut sejumlah alasan yang membuat kepolisian berkesimpulan seperti itu.

 Terik Matahari di Lapangan Monas Tak Surutkan Antusiasme Warga Bertemu Jokowi untuk Halalbihalal

Pertama, yang bersangkutan ketika diperiksa memberikan keterangan mengaku mempelajari terorisme dari internet atau sosial media.

Di kediaman orang tua tempat pelaku tinggal, juga ditemukan sejumlah bahan pembuat bom yang dirakitnya, dengan cara belajar melalui internet pula.

Bahan itu pun dibeli sendiri oleh yang bersangkutan.

 Ini Pesan Anies Baswedan untuk Warga Jakarta di Hari Raya Idul Fitri

Alasan ketiga, dilihat dari amatirnya RA dan bom yang tidak meledak secara sempurna.

Tito Karnavian mengatakan, jika yang bersangkutan termasuk profesional, tentu ledakan bom pasti besar dan tubuhnya akan hancur berkeping-keping.

Mantan Kapolda Metro Jaya itu juga melihat bahwa RA tak memiliki jaringan yang signifikan dalam aksi terorisme.

 Partai Demokrat Sebut SBY Maafkan Prabowo yang Ungkit Pilihan Politik Ani Yudhoyono

"Dilihat dari jaringannya, juga tidak ada jaringan yang signifikan," ucapnya.

Meskipun, lanjut Tito Karnavian, RA pernah mengikuti satu pengajian yang dalam kelompok itu memang ada yang pernah terpapar jaringan terorisme.

"Tapi, sementara kami menyimpulkan bahwa serangan Ini adalah serangan lone wolf," jelasnya.

 Polisi Simpulkan Aksi Usaha Bom Bunuh Diri di Kartasura Serangan Lone Wolf, Ini Alasannya

"Serangan yang dilakukan sendiri, teradikalisasi sendiri, membuat bom sendiri, mengambil inisiatif sendiri, mensurvei sendiri," bebernya.

"Itu pun kita lihat juga dari operasi yang relatif gagal karena yang kena dia sendiri," sambung Tito Karnavian.

Sebelumnya diberitakan Wartakotalive, Rofik Asharuddin, pelaku bom bunuh diri di Pos Pengamanan (Pospam) Tugu Kartasura, Sukoharjo, ternyata sempat mendaftar di PTN Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta dan diterima.

 Lebaran, Menteri Pertahanan Minta Pendukung Capres-Cawapres Bersatu, Tak Ada Lagi 01 dan 02

Namun, pelaku tidak melanjutkan studi alias tidak melanjutkan kuliah di IAIN Surakarta.

"Memang sempat diterima, itu tahun 2016, tapi tidak sampai kuliah," kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama IAIN Surakarta Dr Syamsul Bakri, kepada TribunSolo.com, Selasa (4/6/2019) siang.

"Dia saat itu memang sengaja tidak masuk dan tidak sampai Ospek juga," imbuh Syamsul.

 Arus Mudik Lebaran 2019 Lancar, Menteri Perhubungan: Pembangunan Infrastruktur Sangat Berguna

Syamsul lantas menambahkan, pelaku tidak mau melanjutkan studi karena ada mata kuliah Pancasila.

"Dia tidak mau karena ada mata kuliah Pendidikan Pancasila di IAIN. Dirinya juga belum tercatat di daftar kelas," ungkapnya.

Karena belum masuk sebagai mahasiswa, alhasil pelaku tidak mendapatkan Kartu Rencana Studi (KRS).

 Tahun Ini Lebaran Paling Berat Bagi Partai Demokrat, SBY Tak Gelar Open House

Syamsul mendapatkan informasi tersebut, dari para alumni MAN 2 Surakarta, tempat pelaku pernah bersekolah.

"Saya dapat info pelaku tidak mau masuk kuliah karena mata kuliah itu dari teman-temannya sesama alumni MAN 2 Surakarta," jelasnya.

Sebelumnya, Rofik Asharudin (22), terduga pelaku bom bunuh diri di Pospam Kartasura, disebut oleh sahabatnya mengalami perubahan drastis secara individu.

 Prabowo Lebaran di Hambalang, Tak Gelar Open House

Hal tersebut diungkap Masil (19), teman sepermainan Rofik yang tinggal di Desa Wirogunan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Masil menyebut Rofik semakin jarang bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Namun, ia mengaku masih sesekali berkomunikasi dengan Rofik.

 Annisa Pohan Sebut Ibu Mertuanya Pasti Tersenyum Dengar Pidato Jokowi

Ia juga mulai menyadari perubahan pada diri Rofik, yang mulai gemar menyaksikan video dokumentasi perang maupun aksi radikal di Timur Tengah.

"Ia mulai senang melihat video perang Suriah, termasuk pemenggalan kepala menggunakan handphone," ungkap Masil kepada TribunSolo.com, seusai penggeledahan di rumah Rofik, Selasa (4/6/2019) dini hari.

Masil menduga, Rofik mengalami pencucian otak dari orang yang tak dikenal.

 Ini Penyebab Waktu Perayaan Idul Fitri di Setiap Negara Berbeda-beda

Apalagi, semenjak Rofik mulai enggan diajak untuk pergi ke masjid.

"Padahal dulu orangnya biasa saja, dengan teman-teman sekampung pun sering kumpul-kumpul, namun tiba-tiba sudah tidak mau ke masjid," ungkapnya.

Masil juga mengungkap hobi Rofik sebelumnya, yakni bermain musik.

 Bomber Pospam Kartasura Tak Mau Lanjutkan Studi karena Ada Mata Kuliah Pancasila

"Namun ia berhenti, katanya main musik itu haram," jelasnya.

Selain itu, Rofik Asharudin juga sempat menghilang tiga bulan lamanya.

Hal ini terungkap dari rekan-rekan pelaku saat menyaksikan penggeledahan oleh Detasmen Khusus (Densus) Antiteror 88 di rumahnya.

 Malam Ini Jokowi Putuskan Besok Mau Salat Id di Mana, Masjid Kampung Masuk Daftar Pilihan

Rumah Rofik berada di Dukuh Kranggan Kulon RT 1 RW 2, Desa Wirogunan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Selasa (4/6/2019) dini hari.

"Pernah dikabarkan hilang tiga bulan pada tahun lalu," ungkap rekan sepermainan kala SMP, Wawan (20), sembari menyaksikan penggeledahan yang dihadiri Kapolda Jateng Irjen Rycko A Dahniel dan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mohammad Effendi.

"Dulu sempat dicari-cari tidak tahu keberadaannya di mana, namanya di kampung kan semua orang tahu," tuturnya.

 ‎Besok Jokowi Gelar Open House di Istana Negara, Warga yang Ingin Bersalaman Dikumpulkan di Monas

Namun lanjut dia, tiba-tiba Rofik sudah ketemu dan pulang ke rumah seperti sedia kala.

"Hanya saja jarang ngumpul sama teman-teman seumurannya," cetusnya. (Asep Abdullah Rowi)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved