Bulan Suci Ramadan

Berada Di Bawah Ufuk, Posisi Hilal Tak Terlihat di Jakarta

"Alat yang kami gunakan teleskop yang lumayan canggih karena ini impor dari Jepang. Lalu binocular dan lainnya yang biasa kami pakai untuk merukhiyah

Berada Di Bawah Ufuk, Posisi Hilal Tak Terlihat di Jakarta
Warta Kota
Pemantauan hilal di Kantor Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (3/6) 

Kementerian Agama hari ini, Senin (3/6) malam, akan melakukan sidang isbat guna menetapkan tanggal 1 Syawal 1440 Hijriah, sebagai perayaan Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah.

Pemantauan hilal pun dilakukan di berbagai daerah di tanah air, termasuk di atas gedung Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) DKI Jakarta, Jatinegara, Jakarta Timur.

H Sadirin, Kabag Tata Usaga Kanwil Kemenag DKI Jakarta mengatakan telah mempersiapkan segala peralatan yang biasa digunakan untuk melakukan pemantauan hilal.

"Alat yang kami gunakan teleskop yang lumayan canggih karena ini impor dari Jepang. Lalu binocular dan lainnya yang biasa kami pakai untuk merukhiyah tiap awal atau akhir bulan komariah untuk menetapkan awal bulan komariah," kata Sadirin di Gedung Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (3/6).

VIDEO: Fortuner Pakai Plat Polisi Ternyata Dikemudikan Kevin Kosasih, Pelajar Warga BSD

Berdasarkan pemantauan, posisi hilal pada sore tadi tak terlihat lantaran berada di bawah ufuk.

"Setelah kami melakukan penghitungan atau metode hisab, dimungkinkan sore ini kami tidak bisa melihat hilal karena terbenamnya matahari bersamaan dengan terbenamnya bulan. Sehingga kami tidak bisa merukhiyah. Posisi hilal sore ini menurut hisab adalah di posisi 0,07 derajat di bawah ufuk. Jadi tidak memungkinkan untuk melihat hilal," jelasnya.

Sadirin menambahkan, sesuai dengan fatwa MUI, posisi hilal baru bisa ditentukan apabila berada pada titik 2 derajat di atas ufuk.

Langkah selanjutnya, ia akan melaporkan pemantauan hilal tersebut kepada Kementerian Agama yang saat ini masih melakukan rapat tertutup.

"Kalau secara hisab tak mungkin dilihat dan ketika nanti saat merukhiyah langsung tidak bisa melihat maka kaedahnya harus menyempurnakan hitungan bulan ramadan ini 30 hari," tutur Sadirin. (abs)

Penulis: Rangga Baskoro
Editor: Ahmad Sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved