Breaking News:

Korupsi di Kementerian Agama

Uang untuk Menteri Agama dan Romahurmuziy Dianggap Bisyaroh, JPU KPK Bilang Itu Ilegal

Penasihat hukum Haris Hasanudin membantah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy, terlibat jual beli jabatan di Kemenag.

Penulis: | Editor: Yaspen Martinus
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin mengenakan rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan pasca OTT di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (16/3/2019). KPK menahan Ketum PPP yang juga anggota Komisi XI DPR Romahurmuziy, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi, dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin, dengan barang bukti uang sebanyak Rp 156 juta, terkait kasus dugaan suap seleksi pengisian jabatan pimpinan tinggi di Kemenag. 

SAMSUL Huda Yudha, penasihat hukum Haris Hasanudin, membantah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy, terlibat jual beli jabatan di Kemenag.

Haris Hasanudin adalah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur yang kini nonaktif.

"Itu tak ada istilah komitmen atau bentuk jual beli jabatan. Tak pernah Pak Menteri (Lukman Hakim Saifuddin) ataupun Pak Romy (Romahurmuziy) meminta sesuatu. Tidak pernah," kata Samsul, ditemui di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (29/5/2019).

Menteri Agama Terima Rp 70 Juta dari Kakanwil Kemenag Jatim, Romahurmuziy Dapat Rp 255 Juta

Menurut dia, Haris Hasanudin hanya memberikan sesuatu yang disebut 'Bisyaroh'. 'Bisyaroh' berasal dari Bahasa Arab yang berarti kabar gembira.

"Terkait pemberian Rp 5 juta betul, Rp 250 betul, kemudian 20 (juta) waktu di Maret pondok pesantren, Jombang, betul. Yang ada itu bentuk tradisi lama yang diambil Bahasa Arab namanya 'Bisyaroh,' itu menggembirakan," tuturnya.

Pada umumnya, kata dia, 'Bisyaroh' di pondok pesantren diberikan kepada para guru mengaji sebagai bentuk pesangon atau terima kasih.

Begini Mekanisme Sidang Isbat Penetapan 1 Syawal 1440 Hijriah dan Daftar Lokasi Lihat Bulan

"Kebiasaan atau tradisi atau 'Bisyaroh' kepada pimpinan yang hadir. Meskipun tidak baik, maka inilah PR (pekerjaan rumah) kita ke depan supaya tidak ada lagi hal itu. Saya bilang kan 'Bisyaroh' yang awalnya baik, tetapi karena ada undang-undangnya jadi buruk," tuturnya.

Samsul menyebutkan apabila uang yang diberikan Haris kepada Lukman adalah hasil patungan dari seluruh kepala kantor wilayah Kemenag di Jawa Timur.

"Tetapi untuk Rp 50 juta tanggal 1 Maret di Kemenag Kanwil Jatim itu bukan dari uang Pak Haris, melainkan dari seluruh kepala kantor urunan untuk hormati Pak Menag yang datang, dan itu sudah berlangsung lama," paparnya.

Fadli Zon Jelaskan Alasan Prabowo Ajak Warga Asing ke Dubai dan Austria

Sementara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada KPK Wawan Gunawarto, menyebut 'Bisyaroh' sebagai sesuatu yang ilegal.

Meskipun, kata dia, 'Bisyaroh' diartikan sebagai ucapan terima kasih.

"'Bisyaroh' itu istilah bantuan atau ucapan terima kasih. Tetapi kami tak bisa melepaskan antara 'Bisyaroh' itu dengan jabatan Menteri Agama, apalagi momen adalah ketika terdakwa akan maju sebagai kepala kanwil," jelas Wawan, ditemui di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (29/5/2019).

Fadli Zon Protes Manifes Penerbangan Prabowo ke Dubai Tersebar, Katanya Ini Kan Urusan Privat

Menurut dia, 'Bisyaroh' itu sebagai tradisi. Namun, kata dia, tidak dapat dilepaskan dari proses pemberian jabatan di kanwil kemenag. Apalagi, diduga ada pemberian uang kepada pejabat negara.

"Kalau ada menteri datang itu ada semacam tarikan. Sebenarnya itu sifatnya, tarikan itu ilegal, jadi itu tak tahu sumber duit dari mana untuk operasional menteri selama di luar daerah itu," bebernya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved