Pilpres 2019

Pengamat Ungkap Alasan Mengapa Aksi 22 Mei Merupakan Upaya Makar yang Gagal

DIREKTUR The Indonesian Human Right Monitor (Imparsial) Al Araf menilai, gerakan massa pada 22 Mei merupakan makar yang gagal.

Editor: Yaspen Martinus
Wartakotalive.com/Feri Setiawan
Aksi massa di depan Kantor Bawaslu di Jalan MH Thamrin kembali rusuh, Rabu (22/5/2019) malam. 

DIREKTUR The Indonesian Human Right Monitor (Imparsial) Al Araf menilai, gerakan massa pada 22 Mei merupakan makar yang gagal.

Menurut Al Araf, gerakan itu tak memenuhi syarat tertentu, yakni krisis ekonomi di masyarakat.

"Ya suatu upaya yang gagal karena membaca kondisi objektif tidak utuh. Ada satu syarat yang enggak terpenuhi, yakni krisis ekonomi," ulas Al Araf dalam diskusi bertajuk 'Menguak Dalang Makar 22 Mei' di Kantor DPP PSI, Jalan Wahid Hasyim, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (29/5/2019).

Jokowi-Prabowo Didesak Bertemu, Fadli Zon Bilang Jangan Kompromikan Hitam dan Putih, Air dan Minyak

Al Araf mengatakan, kondisi krisis ekonomi pada tahun 1998, membuat masyarakat terlibat langsung dalam provokasi, karena dilakukan secara sistematis dan masif.

Namun, peristiwa aksi 22 Mei, kata Al Araf, tak memiliki arah tujuan yang pasti.

"Karena sebenarnya proses amuk itu menurut saya gagal karena lintasnya ekonomi. Indonesia stabil, sehingga upaya mancing massa enggak dapat. Masyarakat juga enggak mau terpancing, beda sama 1998," papar Al Araf.

Fadli Zon Protes Manifes Penerbangan Prabowo ke Dubai Tersebar, Katanya Ini Kan Urusan Privat

Selain itu, ia menyebut realitas di tubuh TNI kini juga jauh lebih solid, sehingga pertahanan juga jadi lebih solid.

"Saya rasa kedua institusi ini tidak goyah. Tentu poin penting TNI-Polri solid," ucapnya.

Al Araf menilai aksi 22 Mei merupakan konflik kekerasan politik akibat sengketa pemilu yang terjadi.

Fadli Zon Jelaskan Alasan Prabowo Ajak Warga Asing ke Dubai dan Austria

Situasi ini kerap terjadi di beberapa negara, misalnya, Nigeria dan Kenya. Pemicunya, ketidakpuasan terhadap hasil Pemilu.

Aksi 22 Mei juga diyakini bertujuan mendelegitimasi hasil pemilu.

"Oleh siapa? Mereka yang kalah, sehingga menggunakan cara konflik kekerasan politik untuk mendelegitimasi pemilu," tutur Al Araf.

Begini Mekanisme Sidang Isbat Penetapan 1 Syawal 1440 Hijriah dan Daftar Lokasi Lihat Bulan

Al Araf mengatakan, ada sejumlah kelompok yang ingin menunggangi momentum pengumuman hasil Pemilu 2019.

Salah satunya, kelompok teroris. Ini bisa dibaca dari penangkan sejumlah terduga teroris sebelum aksi 22 Mei.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved