Obituari

Mas Bob dan Moralitas Politik, Kenangan Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto pada Sang Dosen Idola

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengenang dosennya Prof Bob Sugeng Hadiwinata yang berpulang, Selasa (28/5/2019) di Bandung.

Mas Bob dan Moralitas Politik, Kenangan Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto pada Sang Dosen Idola
Tribunnews.com
Bima Arya Sugiarto, Wali Kota Bogor 

Kang Prasojo seorang pedagang kecil di Jawa mampu bertahan ditengah beratnya persaingan usaha tanpa konsepsi ekonomi pasar yang canggih seperti penetrasi pasar, diversifikasi produk, dan lain-lain.

Ketika hari-hari ini dunia dihebohkan dengan tren “Post Truth” saya kembali teringat Mas Bob.

Saya sibuk menebak-nebak bagaimana penjelasan Mas Bob atas kecendrungan yang aneh ini, ketika keyakinan lebih menjadi penentu ketimbang data dan fakta.

Ketika kebenaran menjadi relatif dan lebih banyak dikendalikan oleh opini yang meyakinkan.

Mas Bob inilah yang sukses menampilkan sosok dosen yang humanis dan egaliter di mata mahasiswa.

Hampir semua teman, baik yang serius kuliah, maupun yang lebih serius nongkrong di kantin, merasa sayang kalau melewatkan kuliahnya Mas Bob.

Ini yang ajaib, karena Mas Bob mampu membuat kami mulai haus ilmu daripada sekedar soal absensi saja.

Mas Bob membuat kami mulai asyik berlomba untuk pamer penguasaan teori untuk menjelaskan berbagai fenomena sehari-hari.

Mas Bob inilah yang membuat saya tiba-tiba memutuskan ingin menjadi dosen.

Gaya berceritanya asyik dan kaya analogi. Selalu mampu membumikan teori.

Referensi pilihan teorinya sangat menarik dan selalu aktual.

Ia enak diajak diskusi dan selalu ada waktu untuk mahasiswa.

Tak akan pernah saya lupakan, suatu hari di tahun 2000, kata-kata lirih Mas Bob kepada saya ketika saya memutuskan untuk pindah mengajar dari Unpar Ke Paramadina.

“Bima, what can I do to make you stay? Sebagai kolega saya senang Bima bisa mengajar di Paramadina, tapi sebagai sahabat saya akan kehilangan”.

Ketika saya memutuskan untuk terjun ke dunia politik kepartaian, di luar dugaan saya, Mas Bob sangat mendukung.

Kata Mas Bob, “Baik untuk memperkecil jurang yang lebar antara pendidikan politik di kampus dan kenyataan.”

Ini Mas Bob banget, selalu terobsesi membumikan dan mengawinkan teori dengan realita keseharian.

Dua hal pesan Mas Bob kepada saya, kaitkan selalu politik dengan moralitas.

Kebanyakan politisi tidak banyak paham soal nilai. Kebanyakan hanya sibuk urusi kulitnya saja.

Padahal, ini masih kata Mas Bob, inti dari politik adalah moralitas.

Memang tak mudah kata Mas Bob. Pakailah wisdom dengan kombinasi.

Kalau dipakai terus menerus tidak mungkin, bisa frustasi.

Tapi pastikan selalu ada momentum dimana idealisme menuntun kita untuk membuat keputusan terbaik.

Inilah yang kemudian sering saya istilahkan dengan “ambang batas toleransi”.

Setiap politisi harus bisa menentukan batas-batas dimana hati bisa berkompromi atas setiap fenomena politik yang tak sesuai dengan idealisme.

Terlalu longgar batasnya akan jadi pemain politik, tapi terlalu ketat batasnya besar kemungkinan akan terpental cepat dari pusaran politik.

Pesan kedua mas Bob adalah jangan pernah diwarnai politik, jangan sampai politik mewarnai kita. Kita yang harus mewarnai politik dengan idealisme dan ilmu kita.

Pesan yang lagi-lagi amat berat.

Saya sedih.

Sangat sedih.

Bukan hanya karena kehilangan sosok idola, guru dan sumber inspirasi utama selain ayah saya.

Saya sedih karena tak sempat lagi bertanya kepada mas Bob.

Ingin rasanya saya bertanya:

“ Mas Bob, apa iya kisruhnya pentas politik Indonesia itu karena para free rider, penumpang gelap yang berselancar menunggangi era post truth, pasca kebenaran? “

“Terus, apa yang bisa dilakukan para akademisi atau akademisi yang jadi politisi seperti saya mas?”.

Tapi kemudian saya sadar bahwa saya tak perlu sedih, karena memang jawabanya ada di nasihat mas Bob pada saya.

Dekatkankah moralitas dengan politik dan warnailah politik.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto melayat ke rumah duka RS Borromeus, tempat jenazah Prof Bob Sugeng Hadiwinata PhD, dosen FISIP HI Unpar disemayamkan sementara.
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto melayat ke rumah duka RS Borromeus, tempat jenazah Prof Bob Sugeng Hadiwinata PhD, dosen FISIP HI Unpar disemayamkan sementara. (istimewa)

Terimakasih Mas Bob. Kami para muridmu pasti akan merindukanmu. Selamat jalan guruku.

Bima Arya
Wali Kota Bogor
Mahasiswa HI Unpar Angkatan 1991

Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved