Isu Makar

Pengamat Nilai Amien Rais Terobsesi Keberhasilan Reformasi 98

Prof Koentjoro, menilai sikap politisi Partai Amanat Nasional, Amien Rais, menyerukan people power karena terobsesi keberhasilannya saat ikut menggera

WARTA KOTA/BUDI SAM LAW MALAU
Amien Rais setelah menjalani pemeriksaan penyidik Polda Metro Jaya, Jumat (24/5/2019) malam. 

PALMERAH, WARTAKOTALIVE.COM -- Guru besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Prof Koentjoro menilai sikap politisi Partai Amanat Nasional Amien Rais menyerukan people power karena terobsesi keberhasilannya saat ikut menggerakkan reformasi 1998.

"Menurut saya beliau terobsesi dengan usaha beliau yang berhasil pada 1998, ada satu gerakan transfer of learning dan berhasil," kata Koentjoro, di Balairung Gedung Pusat, UGM, Yogyakarta, Jumat (24/5).

Menurut Koentjoro, Rais seharusnya bertanggung jawab dengan seruannya itu yang belakangan menjadi Gerakan Kedaulatan Rakyat. Bagi Koentjoro, seruan dia dikeluarkan dalam situasi yang sudah jauh berbeda dengan masa reformasi 98.

Amien Rais Dicecar 37 Pertanyaan

Sudah 5 Jam Amien Rais Masih Diperiksa Penyidik Terkait Kasus Makar Eggi Sudjana

Amien Rais Pesimis Gugatan BPN ke MK Mengubah Keadaan

Ini Dia Ramalan Zodiak Sabtu 25 Mei 2019 Hari Sagitarius Suram, Aries Ambisius, Pisces Kalah

Seluruh Jakarta Cerah Berawan Sepanjang Hari Ini, Bogor Hujan Petir di Siang Hari

Ternyata Ada 51 Bukti Gugatan Sengketa Pilpres 2019 yang Diajukan Tim Prabowo-Sandi

Karena seruan itu dikeluarkan dalam konteks situasi yang tidak sama dengan masa 1998 pada saat rezim Soeharto. Akibatnya, menurut Koentjoro, seruan itu tidak memiliki pengaruh apa-apa.

"Situasinya berbeda. Kalau dulu khan Pak Harto memang begitu. Masyarakat kemudian kompak karena seluruhnya mengalami (ketidakadilan), tetapi ini kan tidak," kata dia.

Menurut Koentjoro, dalam ilmu psikologi dikenal adanya teori frustasi agresi yakni semakin masyarakat merasa frustasi maka saat itu pula mereka semakin memiliki perilaku agresi.

Sayangnya, kata dia, agresivitas masyarakat dalam kerusuhan 22 Mei 2019 yang merupakan buah dari seruan Amien Rais tersebut bukan disebabkan masyarakat frustasi.

"Tapi karena masyarakar dibayar. Polisi telah menemukan bukti, perusuh dibayar. Sehingga mereka bekerja tidak sepenuh hati," kata dia.

Oleh sebab itu, menurut dia, sebagai pemimpin aksi atau demonstrasi pada 22 Mei yang menentang keputusan KPU seharusnya tampil di depan mengendalikan situasi agar tidak terjadi kerusuhan.

"Masyarakat bingung ini kedaulatan rakyat atau kerusuhan," kata dia. (Antaranews.com)

Editor: Andy Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved