Bulan Suci Ramadan

Selama Ramadan BPOM Amankan Ribuan Kemasan Pangan Berbahan Berbahaya

Badan Pengawas Obat dan Makan (BPOM) menemukan 170.119 kemasan produk pangan rusak, kadaluwarsa dan ilegal menjelang lebaran ini.

Selama Ramadan BPOM Amankan Ribuan Kemasan Pangan Berbahan Berbahaya
Warta Kota/Joko Supriyanto
Kepala Badan POM RI Penny K Lukito berikan keterangan soal penyitaan adanya Produk Kopi Belalang asal Malaysia kadaluarsa, di Kantor BPOM Percetakan Negara, Senin (20/5/2019). 

Badan Pengawas Obat dan Makan (BPOM) menemukan 170.119 kemasan produk pangan rusak, kadaluwarsa dan ilegal menjelang lebaran ini.

TEMUAN itu berdasarkan pengawasan pangan secara intensif yang dilakukan oleh Badan POM.

Dari hasil pemeriksan ditemukan 1.834 sarana ritel dan distribusi pangan yang terdiri dari 1.553 sarana ritel dan 281 sarana gudang distributor.

Dengan nilai ekonomis mencapai 3,4 miliar.

"Ada 47 persen tidak memenuhi ketentuan. Ditemukan adanya produk pangan yang rusak, pangan kadaluwarsa dan tanpa izin edar," kata Kepala Badan POM RI, Penny K Lukito, Senin (20/5/2019).

 Ani Yudhoyono Diejek Pura-Pura Sakit, Ferdinand Hutahean Meradang, Andi Arief: Lebih Baik Diam!

 VIRAL di Media Sosial! Rumah Super Megah Tak Berpenghuni Ini Dijual Murah

 Dianggap Meresahkan, Penyebar Hoaks Anggota TNI Meninggal Dunia karena Cacar Monyet Dipolisikan

 PERNYATAAN KERAS Ferdinand Hutahean: Saya Menyatakan Berhenti Mendukung Prabowo-Sandi

Dikatakan Penny, untuk kategori kedaluwarsa, BPOM mencatat beberapa produk yang melakukan pelanggaran seperti kental manis, makanan ringan, biskuit ikan kaleng, teh, hingga sereal.

Selain menemukan sejumlah kategori produk pangan yang tidak sesuai ketentuan, BPOM juga memetakan sejumlah lokasi peredarannya.

Menurut Penny, sejumlah produk itu beredar di kawasan Timur Indonesia dan perbatasan.

"Sementara untuk temuan pangan ilegal banyak ditemukan di Kendari, Tangerang, Makassar, Baubau dan Banjarmasin, dengan jenis produk garam, makanan ringan, cokeIat, Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), dan minuman berperisa," tukas Penny K Lukito.

Selain itu, BPOM mendapati bahwa temuan ini memiliki nilai keekonomian lebih besar dari tahun sebelumnya.

 BPN Diminta Buktikan Kecurangan Pemilu, Jika Tidak Ada Bukti? Din Syamsuddin: Tuduhan Itu Fitnah

 VIRAL! Pegawai Minimarket Ini Diseret-Seret Kekasihnya Pakai Motor, Begini Kronologisnya

 Ani Hasibuan Dokter Bongkar Kematian Anggota KPPS Nilai Ada Kejanggalan Penanganan Laporan Kasusnya

 Syahrini Bergelimang Harta Naik Jet Pribadi Hingga Bisa Keliling Dunia Meski Tanpa Bernyanyi

Dari Rp 2,2 miliar pada 2018 menjadi Rp 3,4 miliar di 2019 dengan jumlah sarana ritel dan distribusi pangan lebih banyak dari sebelumnya.

Apabila dibandingkan dengan data intensifikasi pangan pada tahun 2018, tahun ini terjadi penurunan persentase produk takjil yang TMS.

Pada pelaksanaan intensifikasi tahap III tahun 2018, sampel yang tidak memenuhi syarat sebesar 5,34 persen," ucap Penny K Lukito. (JOS)

Penulis: Joko Supriyanto
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved