Berita Artis

Dwi Andhika Akui Punya Trauma Masa Lalu, Berikut 11 Reaksi dan Gejala Umum Trauma

Artis Dwi Andhika mengaku pernah memiliki trauma masa lalu. Meditasi menjadi salah satu caranya untuk menghadapi trauma tersebut.

Dwi Andhika Akui Punya Trauma Masa Lalu, Berikut 11 Reaksi dan Gejala Umum Trauma
Instagram @dwiandhika3486
Dwi Andhika mengaku pernah memiliki trauma masa lalu. Kini ia kerap bermeditasi untuk menghadapi masa lalunya. 

4. Takut dan cemas

Hampir semua reaksi trauma adalah rasa takut dan cemas.

Rasanya peristiwa menakutkan dan mengerikan itu mungkin saja bisa terjadi lagi.

Parahnya, perasaan ini bisa saja terjadi lebih buruk ketimbang perasaan saat peristiwa buruk itu terjadi.

5. Marah

Sebagai pengganti rasa takut dan cemas, biasanya muncul amarah sebagai reaksi dari trauma.

Misalnya merasa marah setiap kali melihat orang yang membuat kita tersakiti.

Bisa pula merasa marah jika terjebak dalam situasi yang mirip.

Ia menjadi lebih cepat marah ketimbang orang biasa.

Termasuk pada keluarga, bahkan pada anak sendiri.

‚Äč6. Kesedihan

Seseorang yang trauma biasanya meresponinya dengan kesedihan.

Sering menangis setiap kali mengingat peristiwa buruk yang menimpanya.

Kesedihan juga bisa berasal dari anggapan bahwa dunia ini sangat ejam dan penuh ancaman.

Khususnya trauma akibat kehilangan orang yang dicintai, biasanya kesedihan jadi reaksi yang sangat umum.

7. Merasa bersalah

Jika trauma berasal dari menyaksikan seseorang terluka atau terbunuh, seseorang itu bisa merasa bersalah pada dirinya sendiri.

Mengapa tidak melakukan sesuatu untuk mencegah hal itu terjadi?

Bisa pula, ia merasa bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi pada orang lain, seolah-olah itu adalah kesalahannya.

Kadang, seorang yang trauma malah menjadi mati rasa.

Ia mematikan semua jenis emosi dalam dirinya, seolah ia terbuah dari kayu.

Bahkan emosi bahagia sekalipun tidak diakui olehnya.

9. Berupaya untuk melupakan peristiwa itu

Peristiwa traumatis bukanlah memori yang menyenangkan, sehingga wajar kalau kita ingin melupakannya.

Seperti yang disebutkan di atas tadi, pikiran kita cenderung untuk mengulang memori menyakitkan itu.

Namun ada pula yang merasa lebih lega ketika membiarkan ingatan itu tetap ada.

10. Menghindari apapun yang berhubungan dengan peristiwa itu

Bisa saja menolak orang, tempat, bahkan apa saja yang berhubungan dengan trauma.

Karena ia menganggap segala hal itu membawanya pada ingatan yang memedihkan.

Misalnya menghindari tayangan TV yang berhubungan dengan hal itu.

Menghindari kota di mana peristiwa trauma terjadi.

11. Sulit percaya pada orang lain

Ketika seseorang trauma akibat perlakuan orang lain, ia kana menjadi sulit untuk percaya pada orang lain.

Ia akan curiga pada semua orang dan menganggap semua orang memiliki kemungkinan yang sama untuk menyakitinya.

Biasanya ia membentuk tembok di sekelilingnya agar orang lain tidak bisa masuk dalam hidupnya.

Penulis: Desy Selviany
Editor: Panji Baskhara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved