Sejarah

Terungkap! Istilah Terkenal 'Jas Merah' Ternyata Bukan Berasal dari Bung Karno, Ini Kata Sejarawan

Singkatan "Jas Merah" bukan dari Bung Karno menurut sejarawan. Selama ini istilah Jas Merah seakan identik dengan Bung Karno.

Terungkap! Istilah Terkenal 'Jas Merah' Ternyata Bukan Berasal dari Bung Karno, Ini Kata Sejarawan
ANTARA/Dewanto Samodro
Narasumber Bedah Pidato Bung Karno "Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah" yang diadakan di Perpustakaan Nasional Jakarta, Rabu (15/5/2019), dari kiri ke kanan: penulis Roso Daras, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri 11 Maret Surakarta Suyatno dan sejarawan Rushdy Hoesein. 

Singkatan "Jas Merah" dari pidato Bung Karno, menurut sejarawan banyak yang salah mengartikannya. Selama ini istilah Jas Merah diartikan sebagai 'jangan sekali-kali melupakan sejarah. 

Namun, ternyata sejarawan Rushdy Hoesein mengatakan, singkatan "Jas Merah" untuk judul pidato "Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!" bukan berasal dari Presiden Indonesia Pertama Sukarno atau Bung Karno.

"Menurut AH Nasution, 'Jas Merah' adalah judul yang diberikan Kesatuan Aksi 66 terhadap pidato Presiden, bukan judul yang diberikan Bung Karno," kata Rushdy dalam bedah pidato Bung Karno di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Rushdy mengatakan, Bung Karno sama sekali tidak menyinggung istilah "Jas Merah" saat menyampaikan pidato berjudul "Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!" pada 17 Agustus 1966.

 UPDATE REKAPITULASI KPU Jokowi Raih 56 Persen, BPN Klaim Prabowo Raih 54,24 Persen & Tolak Hasil KPU

 Terkejut Dituduh Perekam Video Penggal Kepala Presiden, Guru Ini Khawatir Jadi Sasaran Kemarahan

 Fadli Zon Absen, Ketua DPR Sebut Fahri Hamzah Tak Ada di Ruangan Ini Jika Pemerintah Otoriter

Bung Karno, menurut dia, memberikan judul tersebut pada pidatonya untuk mempertahankan garis politiknya yang berlaku.

Dalam pidato tersebut Bung Karno menyebutkan beberapa hal penting seperti tahun-tahun yang gawat, dan konflik sesama anak bangsa.

Menurut Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Suyatno, pidato tersebut merupakan pidato kepresidenan terakhir Bung Karno.

"Saya mencatat, terdapat 89 kata revolusi dan 50 kata sejarah dalam pidato tersebut. Itu menunjukkan betapa penting revolusi dan sejarah bagi Bung Karno," tuturnya.

Pidato tersebut disampaikan pada peringatan 21 tahun kemerdekaan Indonesia.

Selama 21 tahun, revolusi Indonesia penuh dengan dinamika, romantika dan dialektika.

Halaman
123
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved