Kesehatan

Pernah Ketindihan Mahluk Halus Saat Tidur? Sebenarnya Ini yang Terjadi

Pernahkan Anda tidur lalu terbangun namun badan tidak bisa digerakkan? Seperti ketindihan sesuatu. Teriak pun tak bisa

Pernah Ketindihan Mahluk Halus Saat Tidur? Sebenarnya Ini yang Terjadi
banjarmasin post
Ilustrasi tidur seperti ketindihan setan atau mahluk halus 

Selain itu, selama proses ketindihan yang membuat seseorang seperti terbujur kaku, mereka umumnya juga mengalami halusinasi.

Sebagian besar orang mengaku merasakan dan melihat hadirnya sosok jahat dan seram di sekitar mereka.

Studi Sharpless dan Monika Klikova di Sleep Medicine, 23 Maret 2019, menyebut dari 185 responden penderita kelumpuhan tidur, 58 persen responden merasakan hadirnya sosok tertentu di dalam ruang tidur mereka, yang umumnya bukan manusia.

Ustaz Abdul Somad Sampaikan ke Kapolri Soal ada yang Tanya Kenapa Es Lilin Ditangkap, Es Kobar Gak?

Sementara 22 persen responden melaporkan benar-benar melihat seseorang di kamar mereka, yang biasanya adalah orang asing yang tak mereka kenali.

Tak hanya halusinasi yang merupakan manifestasi dari fase tidur REM, Asosiasi Tidur Amerika (American Sleep Association) menyebut lumpuhnya badan saat tidur juga merupakan manifestasi tidur REM.

Orang yang mengalami kelumpuhan tidur sering melaporkan tekanan pada dada mereka saat tubuhnya menjadi kaku atau tubuh mereka bergerak sendiri tanpa mereka mengarahkannya.

siklus tidur 

Mereka yang mengalami halusinasi berupa jiwanya keluar dari tubuh, sebagian justru merasakan sensasi yang menyenangkan karena seolah-olah tubuh menjadi tanpa bobot. Namun, umumnya sensasi itu seringkali justru sangat menakutkan atau mengganggu bagi yang mengalaminya.

“Amigdala sangat aktif saat fase tidur REM. Bagian otak inilah yang berpengaruh terhadap emosi seseorang, termasuk rasa takut maupun memori emosional,” kata Daniel Denis, psikiater di Pusat Kedokteran Beth Israel Deaconess di Boston, AS.

Bagian otak ini secara aktif merespon rasa takut atau sesuatu yang emosional, meskipun tidak ada sesuatu di lingkungan sekitar yang bisa memicu takut atau perasaan emosional itu.

Kondisi itu membuat otak memberikan solusi atas paradoks yang muncul tersebut.

Situasi itulah yang diduga menjadi pemicu munculnya halusinasi yang menakutkan selama kelumpuhan tidur. Walau demikian, penyebab pasti munculnya halusinasi itu belum diketahui pasti.

Faktor Risiko Ketindihan

Mereka yang mengalami stres pascatrauma atau mengalami gangguan panik memang berisiko lebih besar mengalami ketindihan.

Namun, studi Dan Denis dkk yang dipublikasikan di Sleep Medicine Reviews, April 2018, menunjukkan risiko pemicu kelumpuhan tidur sangatlah kompleks.

Mereka yang mengalami stres pascatrauma atau mengalami gangguan panik memang berisiko lebih besar mengalami ketindihan.

Penggunaan zat-zat tertentu, faktor genetik, riwayat trauma, buruknya kondisi kesehatan fisik dan jeleknya kualitas tidur juga bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kelumpuhan tidur.

Bahkan, gangguan kejiwaan terutama kecemasan, persoalan kepribadian, tingkat kecerdasan, hingga adanya kepercayaan anomali tertentu bisa memicu munculnya ketindihan.

“Kondisi itulah yang mungkin menjelaskan mengapa kelumpuhan tidur datang seperti sebuah gelombang serangan. Munculnya serangan itu kemungkinan bertepatan dengan datangnya periode stres,” tambah Denis.

Hingga kini, belum ada terapi khusus untuk mengobati kelumpuhan tidur. Dokter umumnya hanya menyarankan pasien untuk memperbaiki jadwal tidur dan mempertahankannya menjadi rutinitas tidur yang baik.

Dalam kasus ketindihan yang lebih ekstrem, Layanan Kesehatan Nasional (NHS) Inggris menyarankan untuk memberikan pasien dengan obat antidepresan dalam dosis rendah.

Sharpless yang juga penulis buku ‘Sleep Paralysis: Historical Psychological and Medical Perspectives’, 2015, mengatakan, obat-obatan itu dapat membantu mengurangi gejala kelumpuhan tidur dengan menekan aspek-aspek tertentu dari tidur REM.

Sementara itu, Direktur Kedokteran Perilaku Tidur di Pusat Gangguan Tidur-Bangun Tidur, Sistem Kesehatan Montefiore, Bronx, New York, AS, Shelby Harris mengatakan salah satu yang bisa dilakukan untuk mencegah gangguan kelumpuhan tidur adalah memastikan kesehatan tidur yang baik.

Selain kesehatan tidur, kelumpuhan tidur juga bisa dicegah dengan menghindari konsumsi alkohol, nikotin, dan obat-obatan minimal tiga jam sebelum tidur. Sedangkan konsumsi kafein juga harus dibatasi dengan waktu konsumsi terakhir setidaknya pukul dua siang. Menjauhkan piranti elektronik dan gawai dari tempat tidur juga bisa membantu.

“Jika upaya menjaga kesehatan tidur itu tidak membantu dan penderita ketindihan cukup sering mengalami gangguan itu, mereka perlu berkonsultasi dengan dokter ahli tidur untuk memastikan apakah ada persoalan medis yang memicu kelumpuhan tidur tersebut,” tambahnya.

Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved