Kesehatan
Penyakit Lupus Lebih Sering Serang Perempuan, Begini Penjelasannya
Lupus bisa menyerang siapa saja, termasuk selebritas dunia. Salah satunya Selena Gomez. Lupus merupakan penyakit yang sering menyerang perempuan.
Penulis: Feryanto Hadi |
Lupus merupakan penyakit yang sering menyerang perempuan. Penyakit lupus bisa menyerang siapa saja, termasuk selebritas dunia. Salah satunya Selena Gomez.
BAHKAN karena penyakit ini, mantan kekasih Justin Bieber itu juga mengalami gagal ginjal.
Hal itu bisa terjadi karena lupus merupakan penyakit autoimun yang rentan menyebabkan komplikasi terutama pada ginjal.
Lupus lebih banyak menyerang perempuan usia produktif, sulit dideteksi, dan tidak mudah disembuhkan. Oleh karena itu, penting bagi perempuan untuk mengetahui tentang penyakit lupus.
Head of Health Claim Department Sequis dr AP Hendratno mengatakan, gejala awal penyakit lupus seringkali tidak terdeteksi karena gejala yang ditunjukkan tidak khas dengan manifestasi klinis yang bervariasi dari ringan sampai berat.
• Andre Taulany Dirindukan Sule, Sempat Disumpah Serapah Jihan Fahira Hingga Diberi Nasihat
• VIRAL Kisah Naja Lumpuh Otak Sejak Lahir yang Sanggup Hafal 30 Juz Alquran Dalam 10 Bulan
• Perempuan yang Merekam Video Pemuda Ancam Penggal Kepala Jokowi Turut Dilaporkan ke Polisi
• VIRAL Diduga Aniaya Siswi SMA, Sopir Taksi Ngamuk dan Ajak Duel Orangtua Siswi Sampai Lepas Seragam
Tingkat keparahannya pun dari ringan, berat hingga mengancam jiwa.
Secara umum, tanda fisik yang sering dikeluhkan pasien, seperti kelelahan berlebihan, nyeri sendi, demam sangat tinggi, sensitif pada sinar matahari, dan berat badan terus turun.
"Lupus bukan disebabkan oleh penurunan daya tahan tubuh tetapi kondisi kekebalan tubuh yang kehilangan kemampuan membedakan sel dan jaringan tubuh sendiri dengan substansi asing sehingga sistem kekebalan tubuh malah menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh itu sendiri," ujar dr Hendra melalui pesan email yang diterima Warta Kota, Senin (13/5/2016).
"Sebaiknya, obat atau suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh (imunostimulator) dihindari atau tidak dikonsumsi," imbuhnya.
Jika gejala awal sudah terlihat, kata dr Hendra, lebih baik segera periksakan diri ke dokter untuk mengetahui diagnosa awal, mendapatkan pengobatan, dan mengontrol respon autoimunitas untuk mengurangi kerusakan organ yang diserang.
Ia menegaskan agar selagi sehat sebaiknya aktif menjalankan gaya hidup sehat untuk mencegah terjadinya penyakit lupus.
“Sebaiknya kita terutama perempuan mempraktikkan gaya hidup sehat, tidak merokok, dan rutin berolahraga. Sementara mereka yang penyakit lupusnya sudah terkontrol sebaiknya menghindari faktor pencetusnya, seperti paparan sinar matahari langsung, stres, dan tidak mengonsumsi obat-obatan yang tidak perlu apalagi tanpa sepengetahuan dokter, jangan lupa gunakan lotion pelindung kulit pada bagian kulit yang akan terpapar sinar matahari,” tambah dr Hendra.
Ia juga menyarankan agar tetap melakukan kontrol ke dokter setiap 6 bulan sampai dengan 1 tahun sekali untuk mengevaluasi kesehatan karena interaksi dengan sekitar dapat memicu penularan penyakit.
Tentang Penyakit Lupus
Dokter spesialis penyakit dalam OMNI Hospitals Pulomas, dr.Suzy Maria, Sp.PD menimpali, tidak mudah mendiagnosis penyakit lupus bahkan sering kali terlambat karena gejala yang sering tidak khas di awal perjalanan penyakit.
Menurut dr Suzy, gejala penyakit lupus pada setiap penderita berbeda-beda, tergantung dari organ apa yang terserang.
Data yang dilansir oleh Kemenkes pada tahun 2017 pun menyebutkan bahwa jumlah penderita penyakit lupus di Indonesia diperkirakan mencapai 1,5 juta orang dan dari 1,5 juta orang Indonesia yang terkena lupus hanya sekitar 1 persen yang menyadari dirinya menderita penyakit tersebut.
"Interaksi yang kompleks antara genetik dengan lingkungan dapat menjadi pemicu terjadinya lupus. Faktor lingkungan seperti stres dan sinar matahari dapat menjadi pencetus munculnya penyakit lupus pada orang yang memiliki kerentanan genetik. Stres dapat menyebabkan perubahan pada sistem saraf dan hormonal yang memengaruhi sistem imun," terangnya.
"Paparan sinar matahari yang berlebihan pada siang hari dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan yang dapat menimbulkan respon autoimunitas," ujar dr.Suzy.
Kemudian, setelah gejala awal yang telah disebutkan di atas, ada beberapa tanda fisik yang khas, seperti rambut menipis hingga botak, bercak merah pada kulit wajah di daerah pipi (ruam menyerupai kupu-kupu), sariawan berulang.
Tanda lebih lanjut yang muncul bila sudah terjadi gangguan lanjutan, seperti bengkak pada seluruh tubuh akibat kadar albumin dalam darah di bawah normal (hipoalbuminemia) karena gangguan ginjal, lemah, dan pucat karena anemia, lebam kulit, mimisan, gusi berdarah akibat trombosit rendah bahkan penurunan kesadaran atau kejang karena ada keterlibatan sistem saraf.
Penyakit lupus ada yang ringan, sedang, dan berat.
• Daftar Anggota DPRD DKI Jakarta yang Lolos Pileg 2019 Tanpa Jakarta Timur dan Jakarta Utara
• TERBONGKAR Luna Maya Kini Tak Sendiri Lagi, Sudah Lupakan Kisah Cinta dengan Reino Barack
• Ini Jadwal Imsak dan Buka Puasa Hari Kedelapan Ramadhan 1440 H pada Senin (13/5/2019)
Dr Suzy menyarankan agar pada tahap ringan pun, bila sudah terserang lupus harus mendapatkan perawatan medis untuk mengontrol respon autoimunitas dan mengurangi kerusakan organ lebih lanjut.
"Dokter akan memberikan obat anti radang dan obat lainnya untuk mengontrol respon autoimunitas. Jenis obat yang diberikan bergantung pada organ apa yang terlibat pada lupus dan seberapa berat gangguan yang ditimbulkannya," tambah dr Suzy.
Adapun lupus disebut ringan bila stabil secara klinis. Pada tahapan ini tidak mengancam nyawa dan tidak menyebabkan kerusakan bermakna.
Pada lupus sedang, baru menimbulkan penyakit yang lebih serius dan cedera ringan. Sementara, jika terkena lupus tahap berat bisa mengancam nyawa.
Akan tetapi, lupus yang berat dapat saja mengalami remisi atau sebaliknya lupus yang awalnya ringan sempat mengalami remisi dapat mengalami flare (gejala yang secara tiba-tiba menjadi derajat berat) atau menjadi lupus berat.