Mutiara Ramadan

Tradisi Buka Puasa Bersama Bisa Merangkai Kepingan Asa Usai Pilpres 2019

Buka puasa bersama di bulan Ramadan mejadi tradisi masyarakat Indonesia. Keunikannya memuat budaya lokal.

Warta Kota/Anggie Lianda Putri
Suasana buka puasa bersama di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Kamis 17/5/2018. 

Tentu, tradisi yang dilakukan turun temurun ini ada tujuan besarnya.

Selain untuk meramaikan rumah ibadah (masjid/musala) di bulan penuh berkah, sekaligus sebagai wahana menjalin silaturahim antar sesama yang hari-harinya sibuk bekerja.

Juga untuk mendekatkan hati yang menjauh karena masalah hubungan sosial.

Allah Meniupkan Ruh Pada Manusia Diharapkan Jadi Mahluk Spiritual

Untuk konteks saat ini, datangnya bulan Ramadan setelah Pemilihan Umum 2019 merupakan momentum yang tepat.

Selama sebulan penuh, kita bisa merangkai kepingan asa karena perbedaan pilihan politik.

Momen buka puasa bersama, salat tarawih berjamaah, tadarrus bersama, dan nanti merayakan Idul Fitri bisa menjadi saat yang tepat untuk mengembalikan hubungan yang sempat renggang atau putus.

Begitu banyak jalinan pertemanan, persaudaraan, dan ikatan sosial yang renggang bahkan rusak karena beda pilihan politik. Karena itu, pahitnya hubungan gara-gara beda pilihan politik memang harus segera diakhiri.

Bersaudara

Ramadan, bulan yang penuh hikmah, bulan yang menawarkan banyak wisdom (kearifan).

Sudah saatnya bulan suci ini dimanfaatkan untuk merenung kembali atas panas-dinginnya hubungan sesama muslim yang berbeda pilihan politik.

Halaman
123
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved