Kasus Ratna Sarumpaet

Ratna Sarumpaet Mengaku Mulai Kegemukan, Katanya Masa Susahnya Sudah Lewat

Ratna Sarumpaet mengaku menjalani ibadah puasa selama ditahan di Rutan Polda Metro Jaya.

Ratna Sarumpaet Mengaku Mulai Kegemukan, Katanya Masa Susahnya Sudah Lewat
Wartakotalive.com/Adhy Kelana
Terdakwa kasus hoaks Ratna Sarumpaet kembali menjalani sidang perkara dengan agenda mendengarkan keterangan saksi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (7/5). 

Ia juga mengaku sangat kecewa dan marah terhadap tindakan Ratna Sarumpaet tersebut.

"Kecewa berat. Ada beberapa teori, ada kekuatan spiritual yang membuat Ratna Sarumpaet berpikir tidak logis. Sampai ke sana, Pak," beber Amien Rais.

Ratna Sarumpaet mengaku tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi padanya, namun ia tidak menduga hal seperti Amien Rais.

‎BIN Deteksi Gerakan Kepung KPU pada 22 Mei 2019, Kivlan Zen Niat Unjuk Rasa Tanggal 9 Mei

"Saya enggak tahu. Jadi bukan spiritual, mungkin saya sakit. Saya enggak tahu," kata Ratna Sarumpaet seusai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (4/4/2019).

Sebelumnya, foto wajah Ratna Sarumpaet lebam beredar viral. Ratna Sarumpaet lantas mengaku wajahnya lebam karena dianiaya tiga pria di sekitar Bandara Husein Saatranegara, Bandung, Jawa Barat, pada 21 September 2018.

Kejadian penganiayaan tersebut kemudian diceritakan Ratna Sarumpaet kepada Prabowo Subianto, Amien Rais, dan Fadli Zon.

Jokowi Nilai Kawasan Bukit Soeharto Cocok Jadi Lokasi Calon Ibu Kota Baru

Prabowo Subianto kemudian menggelar konferensi pers, dan mengutuk penganiayaan tersebut. Setelah pihak kepolisian menemukan bukti-bukti bahwa informasi penganiayaan tersebut palsu, Ratna Sarumpaet kemudian menggelar konferensi pers.

Ratna Sarumpaet akhirnya mengaku bahwa kabar penganiayaan tersebut rekayasa. Wajah lebam yang fotonya viral di media sosial tersebut akibat suntikan dari seorang dokter ahli bedah di rumah sakit khusus bedah plastik di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. 

Akibat perbuatannya, Ratna Sarumpaet didakwa melanggar Pasal 14 ayat (1) UU No 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, atau dakwaan kedua pasal 28 ayat (2) jo 45A ayat (2) UU No 19/2016 tentang Perubahan atas UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. (Fahdi Fahlevi)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved