Bulan Suci Ramadan

Iming-iming Hadiah Untuk Anak yang Berpuasa Saat Bulan Suci Ramadan, Ini Alasannya

"Ketika anak melihat suasana sudah begitu menyenangkan saat Ramadan di rumah pasti anak akan ingin terlibat."

Iming-iming Hadiah Untuk Anak yang Berpuasa Saat Bulan Suci Ramadan, Ini Alasannya
About Islam
Ilustrasi anak-anak sedang menunggu waktu berbuka puasa. 

Namun dalam perjalanan kehidupan anak, kedua motivasi ini dapat berjalan beriringan.

Artinya, motivasi intrinsik bisa dikembangkan. Misalnya, anak yang mendapatkan hadiah karena melakukan ibadah tertentu.

Anak juga bisa mendapat kata-kata pujian, seperti  "Wah, kamu pasti bangga sama diri kamu sendiri karena sudah bisa puasa seminggu penuh...hebat deh anak mama!”

Masukan seperti itu akan menumbuhkan rasa bangga, kepercayaan diri dan sikap positif anak terhadap dirinya sendiri sehingga lambat laun akan mengembangkan motivasi intrinsik.

Suasana mendukung

Menurut Vera yang tak kalah penting adalah menghadirkan suasana yang menyenangkan saat Ramadan.

Ramadan itu identik dengan tradisi makan bersama, bersuka cita saat berbuka, banyak makanan yang disukai di meja makan, membantu menyiapkan makanan dan lainnya.

"Ketika anak melihat suasana sudah begitu menyenangkan saat Ramadan di rumah pasti anak akan ingin terlibat. Bahkan tanpa diberi imbalan sekalipun sebenernya," kata psikolog Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia ini.

Seruan Bagi Pemilik Tempat Hiburan dan Rumah Makan, Wali Kota Depok: Tutup Selama Ramadan!

Menurut Albert Bandura, seorang pakar perkembangan anak ternama, anak belajar perilaku yang diharapkan maupun yang tak diharapkan melalui mengamati dan mendengarkan orang-orang di sekitarnya.

"Anak ibarat seperti busa yang mampu menyerap cairan di sekelilingnya. Jadi tunjukkanlah pada anak perilaku ibadah apa yang diharapkan dari mereka."

"Jadikan ibadah sebagai bagian dari kebiasaan dalam keseharian di rumah seperti membaca doa sebelum makan atau tidur. Orang tua yang melakukan, anak tinggal meniru," ujarnya.

Selain itu, tunjukkan pula rewarding experience setelah beribadah. Misalnya tersenyumlah atau bicara dengan lembut setelah ibadah.

Atau bisa katakan, "Duh tenang deh kalau habis berdoa, bisa tidur nyenyak deh anak mama…”

Anak yang belajar lewat mengamati akan menyerap pula pengalaman menyenangkan setelah ibadah sehingga lambat laun ingin mencapai pengalaman yang sama.

Anak akan mudah paham sesuatu ketika merasa senang. Jadi lakukan ibadah secara menyenangkan.

Selama Ramadan Gerai Perpanjangan SIM di DKI Buka dan Tutup Lebih Awal

Ibadah memang hal serius tapi bukan berarti cara mengajarkannya juga harus serius dan kaku.

Misalnya, orang tua bisa mengajarkan tentang ibadah kepada anak lewat lagu atau buku-buku cerita yang menarik.

Menurut Vera, orang tua, dapat menarik beberapa kesimpulan penting yang dapat diterapkan dalam pengajaran ibadah pada anak:

• Hadiah boleh-boleh saja, mengingat anak masih sulit memahami hal yang abstrak seperti pahala dan masih membutuhkan motivasi ekstrinsik.

Tetapi hadiah sebaiknya tidak berlebihan. Tidak harus berupa barang atau uang. Bisa saja pengalaman yang menyenangkan.

• Sejalan dengan pemberian motivasi ekstrinsik, kembangkan terus motivasi instrinsik anak. Berikan dia pujian atas usaha ibadahnya agar muncul rasa bangga pada diri sendiri.

• Pengajaran ibadah yang baik untuk anak adalah memberikan contoh dan menjadikannya kebiasaan sehari-hari.

Anak memang peniru ulung karena dapat lebih mudah menyerap dan menerapkan apa yang diajarkan. Jangan lupa, selalu melakukannya dalam suasana senang. 

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Intan Ungaling Dian
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved