Semarak Ramadan

Bakal Digusur, Tahun Ini Jadi Salat Tarawih Terakhir di Atas JPO Jalan Jenderal Basuki Rachmat

Ia menjelaskan nantinya, kawasan tersebut akan dibangun jalur lingkar agar kendaraan dari arah Cawang bisa langsung masuk ke arah Tol Becakayu.

Bakal Digusur, Tahun Ini Jadi Salat Tarawih Terakhir di Atas JPO Jalan Jenderal Basuki Rachmat
Wartakotalive.com/Rangga Baskoro
Warga RW 02 Kelurahan Cipinang Besar Utara melakukan ibadah salat tarawih di atas JPO, Senin (6/5/2019). 

Puluhan pemuda berbaris memanjang di atas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), Jalan Jenderal Basuki Rachmat, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (6/5) malam.

Secara kyusuk, mereka mengikuti arahan suara imam melalui pengeras Musala Miftahul Jannah.

Meski lalu lintas di malam itu begitu padat, para jamaah tetap beribadah menjalankan salat tarawih.

Pengurus Musala Miftahul Jannah, Arafat (37) mengatakan bahwa tahun ini menjadi penyelenggaraan ibadah salat tarawih bagi warga RW 02, Kelurahan Cipinang Besar Utara.

Hal itu disebabkan karena wilayah itu terkena pembebasan lahan akibat imbas pembangunan Tol Becakayu.

"Insya Allah ini jadi salat tarawih di tahun terakhir. Karena 5 RT di sini dari RT 08 sampai 12 akan digusur karena ada Tol Becakayu. Ini jadi pemandangan terakhir kita melihat pemuda-pemuda salat di atas JPO," ucap Arafat di lokasi.

Ia menjelaskan nantinya, kawasan tersebut akan dibangun jalur lingkar agar kendaraan dari arah Cawang bisa langsung masuk ke arah Tol Becakayu.

Beberapa bulan lalu, sambung Arafat, pihak pengembang mendatangi lokasi untuk mengukur luasan musala.

Hal itu dilakukan agar nantinya musala yang berdiri di atas tanah wakaf itu kembali dibangun di tempat lain oleh pengembang sebagai bagian dari pertanggungjawaban.

"Nilai musala ini ditakar sekitar Rp 900 juta. Luas bangunannya sekitar 88 meter persegi. Nantinya pengembang akan membangun musala lagi di tempat lain dengan nilai dan luas yang sama. Jadi dari ummat kembali lagi untuk ummat," ungkapnya.

Pihak pengurus musala sendiri sudah mencari lokasi pengganti di dekat lokasi tersebut.

Prosesnya sendiri sudah mencapai pada tahap negosiasi harga.

Pengurus musala lain bernama Ponco (31) mengaku sedih lantaran musala yang dibangun sejak akhir tahun 80an itu harus dibongkar.

Musala itu baginya menjadi saksi bisu perkembangan nilai-nilai agama bagi pemuda sekitar.

"Tradisinya itu kalau masih muda salat tarawih di atas JPO. Kalau sudah punya istri atau bapak-bapak, baru boleh masuk ke dalam. Sedih ya harus dibongkar. Tapi mau bagaimana lagi kalau ketentuannya sudah seperti itu," tutur Ponco. (abs)

Penulis: Rangga Baskoro
Editor: Murtopo
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved