Road to Maybank Bali Marathon 2019 Ajak Pelari Lakukan Persiapan Kesehatan

Kategori yang diperlombakan Maybank Bali Marathon 2019 meliputi marathon (42,197 km), half-marathon (21,0975 km), 10K dan lomba lari anak (kid dash).

Road to Maybank Bali Marathon 2019 Ajak Pelari Lakukan Persiapan Kesehatan
Warta Kota
Direktur Maybank Indonesia, Eri Budiono, memberi kata sambutan dalam acara #RoadtoMBM2019 di Three Buns, Jalan Senopati, Jakarta, Jumat (3/5) malam. 

"Pada MBM 2019 ini, Maybank Indonesia akan melipatgandakan pengadaan pacer menjadi 41 pacer dari tahun sebelumnya berjumlah 19 pacer," ujar Budi.

Selain untuk membantu pencapaian waktu finish para pelari saat Race Day, Pacer MBM 2019 juga akan dibekali dengan kemampuan prosedur first aid dan sertifikasi emergency CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) untuk menangani kondisi darurat.

Sementara itu, pelatih atau coach Andriyanto dikesempatan yang sama mengatakan, bahwa setiap pelari yang ingin mengikuti lomba marathon perlu sekali training atau latihan terlebih dahulu. Menurutnya, hal itu perlu dilakukan untuk menjaga stamina dan juga kecepatan berlari saat race marathon.

"Lari maraton ini lari jarak jauh lari ini lebih komplek jika nggak latihan dengan baik maka dia nggak akan berhasil. Hati-hati dengan marathon jangan anggap remeh karena butuh speed untuk lari sejauh 42 km," ujarnya.

Dalam aspek kesehatan, Maybank Bali Marathon juga menghadirkan Specialist Knee & Joint, dr Kiki Novianto, SpOT (K) dan Specialist Kedokteran Olahraga, dr Angelica Anggunadi SpKO sebagai narasumber untuk berbagi pengetahuan tentang kesehatan dan olah raga.

Dr. Kiki mengatakan, pada umumnya memang 40 persen atau yang terbanyak dari cedera yang dialami oleh pelari itu adalah bagian lutut. "Sementara lainnya biasanya bisa dialami oleh berbagai bagian anggota tubuh lain seperti engkel, pinggul bahkan pundak," ujarnya.

Cidera yang terjadi pada para pelari itu, menurut dr. Kiki biasanya disebabkan karena aktivitasnya saat berolah raga dianggap berlebihan.  "Jadi, terlalu cepat menambah jarak, terlalu cepat menambah kecepatan terlalu sedikit beristirahat, itu semua 70 persen gara-gara itu," kata Kiki.

Jika hal semacam itu terjadi biasanya yang ia sarankan pertama kali adalah, untuk berhenti lari terlebih dahulu. Sedang untuk penanganannya, umumnya sebagian cidera tersebut dikompres menggunakan es terlebih dahulu.

Sementara itu dr. Angelica menjelaskan bahwa ada hal yang perlu diperhatikan oleh pelari saat marathon. Yakni, soal dehidrasi. "Kebutuhan cairan seringkali terlupakan, butuh cuma saat race saja, untuk yang kebutuhan sehari-hari lupa," ujarnya.

Angelica mengatakan, bahwa dehidrasi tidak harus sampai pingsan, karena ada juga dehidrasi ringan. Cara untuk melihat kita mengalami dehidrasi ringan salah satunya lewat warna urin, jika kita kencing pada pagi hari dan warnanya pekat itu berarti sehari sebelumnya kita kurang minum.

Halaman
123
Penulis: Mochammad Dipa
Editor: Ichwan Chasani
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved