Wagub DKI

Pengamat Nilai Dua Kandidat dari PKS Belum Cocok Jadi Wagub

Pengamat politik Ujang Komarudin menilai dua calon wakil gubernur yang disodorkan PKS, Agung Yulianto dan Ahmad Syikhu belum cocok menggantikan Sandi.

Pengamat Nilai Dua Kandidat dari PKS Belum Cocok Jadi Wagub
Warta Kota/Muhammad Azzam
KANDIDAT Wagub DKI Jakarta Ahmad Syaikhu di Ruang Asyik Preneur, Jalan KH Noer Ali, Kota Bekasi, Rabu (6/3/2019) malam. 

Pengamat Politik Ujang Komarudin menilai dua calon wakil gubernur (Cawagub) yang disodorkan PKS yakni Agung Yulianto dan Ahmad Syikhu belum cocok menggantikan Sandiaga Uno.

Oleh karena itu, pembentukan Panitia Khusus (Pansus) untuk menidaklanjuti proses Wagub ini berjalan alot.

"Menurut saya ini soal wagubnya yang belum deal. Ketika orangnya (Cawagub), sudah pas, sudah cocok disepakati maka pembuatan pansus tuh akan cepat," ujar Ujang saat dikofirmasi, Sabtu (4/5/2019).

"Ini lambatkan karena dua nama yang sudah diajukan itu hanya sekedar, menurut saya yah dinamika politik aja, belum tentu dua nama itu yang akan diajukan menjadi Wagub," tambah Ujang.

Peta Politik di lingkungan DKI Jakarta jelas mengikuti dinamika perkembangan politik nasional.

Artinya pemilihan Wagub DKI juga sangat bergantung pada hasil Pemilu yang resmi keluar pada 22 mei 2019 nanti.

Apabila Gerindra yang merupakan salah satu Parpol pengusung Wagub DKI ternyata keok, maka hal ini tentu berpengaruh pada dua kandidat Wagub DKI yang disodorkan PKS.

Menurut Ujang, bisa jadi Gerindra kembali mengambil jatah Wagub pendamping Gubernur DKI Anies Baswedan.

"Katakanlah versi quick count seandainya Prabowo dikatakan kalah pada tanggal 22 mei nanti, maka kemungkinan besar calon (Wagub) akan berubah juga, akan ganti juga. Nah inilah yang membuat prosesnya lama," ungkap Ujang.

Pasalnya apabila Agung Yulianto dan Ahmad Syikhu dirasa sudah cocok mengisi kursi Wagub, maka tak mungkin kursi DKI 2 ini dibiarkan lowong selama lebih delapan bulan.

"Sampai hari ini belum dipilih (Wagub DKI) belum jelas. Artinya kan ada kepentingan lain, ada misi lain, katakanlah ada orang lain (ada kader lain) ada tokoh lain, bisa saja menyalip dalam detik-detik terakhir, di politik apapun bisa terjadi," ungkap Ujang.

Penulis: Anggie Lianda Putri
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved