Breaking News:

Intiland Raup Pendapatan Usaha Rp888 Miliar di Triwulan I 2019

Segmen pengembangan mixed-use & high rise menjadi kontributor pendapatan usaha terbesar, mencapai Rp523,4 miliar atau 59 persen dari keseluruhan.

Warta Kota/Henry Lopulalan
Corporate Secretary Intiland Theresia Rustandi, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono, dan Pgs. Pemimpin Kelompok Sindikasi Bank Negara Indonesia (BNI) Chairani Sari (kiri-kanan) mengunjungi unit contoh The Hamilton Apartemen 1Park Avenue, Jakarta Selatan, Rabu (30/1). Kunjungan tersebut dilakukan usai konferensi pers terkait Fasilitas Kredit Sindikasi yang diperoleh Intiland dari BNI dan Bank Central Asia (BCA) sebesar Rp2,8 triliun untuk modal pengembangan usaha. 

PT Intiland Development Tbk (Intiland; DILD) membukukan pendapatan usaha Rp887,6 miliar sepanjang triwulan I tahun 2019 atau naik sebesar 25 persen dibandingkan triwulan I 2018 yang mencapai Rp709,2 miliar.

Archied Noto Pradono Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland menjelaskan, pertumbuhan pendapatan usaha terutama berasal dari peningkatan pengakuan pendapatan dari segmen pengembangan mixed-use & high rise.

Peningkatan tersebut seiring dengan progres penyelesaian sejumlah proyek mixed-use & high rise di Jakarta dan Surabaya, seperti Fifty Seven Promenade, Graha Golf, dan The Rosebay.

“Pembangunan beberapa proyek mixed-use & high rise akan selesai tahun ini. Kami berharap pasar properti dapat tumbuh positif dan minat beli konsumen dan investor cepat kembali pulih,” kata Archied, dalam pernyataan resminya, Selasa (30/4/2019).

Archied menjelaskan bahwa pendapatan usaha Intiland selama ini ditopang dari empat segmen pengembangan. Selain bersumber dari pengembangan mixed-use & high rise, pendapatan usaha perseroan juga diperoleh dari kawasan perumahan, kawasan industri, dan properti investasi.

Segmen pengembangan mixed-use & high rise tercatat sebagai kontributor pendapatan usaha terbesar mencapai Rp523,4 miliar atau 59 persen dari keseluruhan. Pendapatan usaha tersebut melonjak 165 persen dibanding triwulan I tahun lalu sebesar Rp197,4 miliar.

Kontributor terbesar selanjutnya berasal dari segmen properti investasi yang mencatatkan pendapatan usaha Rp157,1 miliar atau 18 persen dari keseluruhan. Segmen yang merupakan sumber pendapatan berkelanjutan (reccuring income) ini meningkat 13 persen dibandingkan triwulan I 2018 sebesar Rp138,5 miliar.

Dari segmen pengembangan kawasan perumahan, perseroan membukukan pendapatan usaha Rp144,7 miliar, atau 16 persen dari keseluruhan. Perolehan segmen ini turun 61 persen dibandingkan Rp373,3 miliar di periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan usaha berikutnya dari pengembangan kawasan industri yang menyumbang Rp62,4 miliar atau 7 persen dari keseluruhan. Kontribusi pendapatan dari segmen ini berasal dari penjualan lahan industri yang dimiliki perseroan di Ngoro Industrial Park, Mojokerto, Jawa Timur dan pergudangan di Aeropolis.

“Secara umum pendapatan usaha meningkat, baik yang berasal dari development income maupun reccuring income. Kontributor terbesar masih dari development income yang mencapai Rp730,5 miliar atau 82 persen dari keseluruhan,” ungkap Archied lebih lanjut.

Halaman
123
Penulis: Ichwan Chasani
Editor: Ichwan Chasani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved