Ledakan Bom di Sri Lanka

Pascaledakan Bom di Sejumlah Gereja dan Hotel, Sri Lanka Larang Warga Kenakan Penutup Wajah

Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena akan menggunakan kekuatan darurat untuk melarang penggunaan segala bentuk penutup wajah di tempat umum.

Pascaledakan Bom di Sejumlah Gereja dan Hotel, Sri Lanka Larang Warga Kenakan Penutup Wajah
Reuters/thedailystar.net
PROSESI pemakaman massal korban serangan bom, dua hari setelah ledakan bom di sejumlah gereja dan hotel mewah di Sri Lanka pada Minggu Paskah lalu, di pemakaman dekat Gereja St Sebastian di Negombo, Sri Lanka, Selasa (23/4/2019). 

Tentara dan polisi Sri Langka pada Jumat (26/4/2019) telah melancarkan penyerbuan ke lokasi yang diduga sebagai markas teroris.

MINGGU (28/4/2019) kemarin, Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena mengumumkan larangan kepada warga untuk mengenakan penutup wajah di tempat umum yang dapat menyulitkan identifikasi.

Pelarangan tersebut diumumkan sepekan pascaserangan bom oleh kelompok teroris yang menewaskan hingga 253 orang dan melukai ratusan lainnya di negara itu.

Presiden Sirisena akan menggunakan kekuatan darurat untuk melarang penggunaan segala bentuk penutup wajah di tempat umum, seperti diwartakan AFP.

Ini Sosok Pahlawan Hentikan Aksi Pelaku Bom Bunuh Diri di Sri Lanka Hingga Selamatkan 600 Jemaat

Dalam Kondisi Hamil, Istri Pelaku Ledakan Bom Sri Lanka Meledakkan Diri dengan Rompi Bom Bunuh Diri

Terungkap, Identitas Kakak Beradik Keluarga Kaya, Pelaku Ledakan Bom Sri Lanka

Pelarangan ini telah mulai diberlakukan pada Senin (29/4/2019).

"Larangan ini untuk membantu dalam memastikan keamanan nasional... Tidak seorang pun boleh menggunakan penutup wajah yang akan membuat identifikasi menjadi sulit," tulis pernyataan kantor kepresidenan Sri Lanka, Minggu (28/4/2019).

Pelarangan resmi oleh pemerintah Sri Lanka ini dilakukan hanya selang beberapa hari setelah ulama Islam setempat mendesak kepada kaum perempuan Muslim untuk tidak menutupi wajah mereka, di tengah kekhawatiran akan adanya serangan balasan usai aksi bom yang dilakukan pada Minggu Paskah.

Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena
Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena (Daily News)

Markas teroris

Delapan ledakan terjadi pada Minggu (21/4/2019) yang menargetkan tiga gereja yang sedang menggelar perayaan Paskah, serta tiga hotel mewah di mana banyak tamu sedang berkumpul di restoran.

Pemerintah Sri Lanka menuding kelompok ekstremis National Thawheeth Jamaath (NTJ) yang setia kepada ISIS sebagai dalang serangan bom bunuh diri Sri Lanka itu.

Tentara dan polisi Sri Langka pada Jumat (26/4/2019) telah melancarkan penyerbuan ke lokasi yang diduga sebagai markas teroris.

Sebanyak 15 orang dilaporkan tewas dalam serangan, termasuk anak-anak dan perempuan. Pihak berwenang menyebut ada sekitar 140 orang yang menjadi pengikut kelompok ekstremis pendukung ISIS di negara itu.

Dari jumlah itu, petugas telah menahan lebih dari 100 orang terduga teroris berkaitan dengan aksi serangan bom bunuh diri.

Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe sebelumnya mengatakan, situasi negara akan segera kembali normal, setelah sebagian besar tersangka pelaku teror serangan bom ditangkap atau tewas. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pascaserangan Bom, Sri Lanka Larang Warga Kenakan Penutup Wajah"

Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved