Pemilu 2019

KPU Disebut Curang, Mahfud MD: Ya Biasa, Namanya Juga Demokrasi

Mahfud MD menyoroti adanya isu kecurangan yang ditujukan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

KPU Disebut Curang, Mahfud MD: Ya Biasa, Namanya Juga Demokrasi
Instagram @mohmahfudmd
Prof Dr Mohammad Mahfud MD 

MENTENG, WARTAKOTALIVE.COM -- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2013, Prof Mahfud MD menyoroti adanya isu kecurangan yang ditujukan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Dirinya menyebut hal tersebut wajar, mengingat perbedaan merupakan bagian dari demokrasi.

Hal tersebut disampaikan oleh Mahfud usai meninjau penginputan suara lewat Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) di kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat pada Rabu (24/4/2019) malam.

Menurutnya, demokrasi memiliki harga yang harus dibayar, mulai dari penyelenggaraan hingga penetapan Presiden dan Wakil presiden Republik Indonesia ataupun para wakil rakyat yang akan berada di gedung parlemen, hingga beragam masalah seperti yang terjadi saat ini.

Sehingga menurutnya hal tersebut merupakan hal wajar dan tidak perlu dilebihkan.

Karena fenomena yang terjadi menurutnya adalah salah satu bagian dari proses demokrasi.

"Demokrasi memang harus ada biayanya, kalau mau praktis ya tidak usah menyelenggarakan demokrasi. Pakai kerajaan aja, selesai semua, nggak usah pakai pemilu. Kalau diganggu dengan tudingan tersebut ya biasa, namanya juga demokrasi," ungkapnya.

Menurutnya, isu kecurangan yang ditujukan kini kepada KPU hanya akan bertahan selama proses penginputan suara lewat situng dilakukan.

Namun ketika proses penginputan suara selesai dilakukan bersamaan dengan laporan adanya dugaan kecurangan diproses di Mahkamah Konstitusi (MK), isu curang akan mengarah kepada Hakim MK.

"Tudingan selalu ada, ritualnya itu, KPU diserang terus sampai nanti tanggal 23 Mei, serangan akan berbalik tadinya ke KPU jadi ke MK. Gitu aja ritualnya, lihat aja nanti. Tuduhan hakim MK disuap lah, dia berpihak sama ini lah, itu nanti akan muncul. Pengalaman saya bertahun tahun begitu. Itu ritual politik," ungkap Mahfud.

Oleh sebab itu dirinya mengingatkan kepada masyarakat agar tenang dan ikut mengawasi proses penginputan suara lewat Situng KPU.

Sehingga apabila ditemukan adanya kesalahan bisa dilaporkan langsung kepada KPU.

"Jadi KPU juga punya self correction terhadap kemungkinan kekeliruan itu. Nah semua saksi punya, sehingga tak mungkin ada kesalahan kolektif yang direncanakan, bahwa memang ada soal-soal teknis. Dan menarik, kami tadi semua melihat sendiri bahwa server untuk pengolahan data dan entry data itu semuanya ada di sini. Bohong itu kalau bilang ada di Singapura, ada di sini. dan orangnya orang Indonesia semua ndak ada orang bulenya, ndak ada orang asingnya tadi saya melihat sendiri yang mengerjakan di situ," jelas Mahfud.

"Sehingga masyarakat harus tenang, jangan sampai di rusak KPU ini atau Pemilu ini dirusak oleh berita berita hoax. nanti semuanya kan tinggal adu data. kalau perlu mereka yang punya pembanding buat aja situng sendiri lalu ini punya kami. Itu akan ketahuan juga apa palsu atau tidak, karena sumbernya sama, ditandatangani oleh orang yang sama di setiap form C1 itukan, tanda tangan basah semua dan distempel basah gitu kan," tutupnya. (dwi)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved