Perbaikan Jembatan Merah

Perbaikan Jembatan Merah Hanya Harapkan Dana Bantuan Pejalan Kaki

Sejak dibangun pada tahun 2001, tak pernah sedikit pun pemerintah memberikan bantuan dana atas perbaikan Jembatan Merah yang menghubungkan antara RW 0

Perbaikan Jembatan Merah Hanya Harapkan Dana Bantuan Pejalan Kaki
Wartakotalive.com/Rangga Baskoro
Kondisi Jembatan Merah terkini, Rabu (24/4). 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com Rangga Baskoro

MAKASAR, WARTAKOTALIVE.COM -- Sejak dibangun pada tahun 2001, tak pernah sedikit pun pemerintah memberikan bantuan dana atas perbaikan Jembatan Merah yang menghubungkan antara RW 03 dan 04 Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur.

Bahkan hingga kini, jembatan yang terbuat dari besi bekas galangan kapal tersebut kerap diperbaiki menggunakan dana swadaya masyarakat dan bantuan para pejalan kaki yang melintas.

"Untuk perawatan jembatan warga ngecerek. Jadi di jembatan ditaruh ember, nanti yang lewat suka kasih sumbangan. Seikhlasnya saja, enggak dipatok minimal harus berapa atau dipaksa nyumbang. Namanya juga ngecrek," kata Suradi seorang waraga di Makasar, Jakarta Timur, Rabu (24/4/2019).

Lantaran didasari atas dasar sukarela, dana hasil sumbangan yang terkumpul tak mampu memperbaiki jembatan merah secara utuh, setengahnya pun tidak. Dana itu hanya mampu memperbaiki secuil dari sekian banyak kerusakan yang terdapat di sekujur tubuh Jembatan Merah.

"Cuman perbaikan kecil, kalau ada yang Lubang di las, ditambah pakai pelat baru. Lihat saja di jembatan banyak tambalannya, sudah pada bopeng-bopeng," ujarnya.

Beruntung suami Suradi yang ikut membangun jembatan merah memiliki keahlian las sehingga dana perawatan dapat ditekan dengan hasil yang memuaskan.

Pengalaman bekerja suaminya di kapal juga yang memungkinkan Jembatan Merah hingga kini masih berfungsi tanpa pernah ambruk dihantam arus Kali Sunter.

"Bapak kan dulu kerja di kapal, nah besi yang jadi penyangga ini dari pelabuhan. Makannya bisa kuat sampai sekarang, pas awal dibangun alas jembatan ini juga pakai kayu bekas kapal," tuturnya.

Menurutnya dana pembuatan Jembatan Merah yang melibatkan puluhan warga dari dua RW saat itu nyaris mencapai ratusan juta rupiah.

Mereka bosan menunggu usul pembangunan disetujui pemerintah sehingga memilih menggunakan uang dan keringat mereka sendiri guna membangun jembatan semi permanen.

Mini (38), warga RW 03 mengatakan hampir di setiap bulannya warga harus ngecerek demi memperbaiki kerusakan Jembatan Merah yang terus bertambah seiring waktu.

"Hampir setiap bulan pasti ada perbaikan. Perbaikannya sih kecil, dilas yang bagian bolongnya. Tapi hampir setiap bulan pasti ada perbaikan. Kalau pemerintah sih enggak pernah kasih bantuan," ucap Mini. (abs)

Penulis: Rangga Baskoro
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved