Lebih dari 15 Tahun, Jembatan Merah Tak Pernah Dibangun Menggunakan Dana Pemerintah

Dari sanalah kemudian masyarakat membangun Jembatan Merah sebagai akses penghubung yang kini kondisinya mengenaskan.

Penulis: Rangga Baskoro | Editor: Andy Pribadi
Wartakotalive.com/Rangga Baskoro
Kondisi Jembatan Merah terkini, Rabu (24/4). 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Rangga Baskoro

MAKASAR, WARTAKOTALIVE.COM -- Kawasan Cipinang Melayu dialiri Sungai Sunter yang merupakan bagian dari aliran Sungai Cikeas dan Cisadane, Jawa Barat.

Sungai Sunter yang terbilang berukuran kecil itu memiliki aliran air yang cukup deras.

Terdapat dua kawasan yakni RW 03 dan 04 yang dipisahkan oleh sungai tersebut.

Dari sanalah kemudian masyarakat membangun Jembatan Merah sebagai akses penghubung yang kini kondisinya mengenaskan.

Kondisi Jembatan Merah terkini, Rabu (24/4).
Kondisi Jembatan Merah terkini, Rabu (24/4). (Wartakotalive.com/Rangga Baskoro)

Suradi (56), seorang warga RW 04 menceritakan bahwa Jembatan Merah awal kali dibangun sejak tahun 2001.

Jembatan yang telah berulang kali direnovasi tersebut selalu dibangun menggunakan dana swadaya masyarakat tanpa seperse pun bantuan dari pemerintah.

"Jembatan ini sudah banyak bagian yang rusak, tapi tetap saja enggak pernah diperbaiki pemerintah. Sudah bosan menunggu, jembatan ini saja dibangun pakai dana warga," kata Suradi di Makasar, Jakarta Timur, Rabu (24/4/2019).

Jembatan tersebut memiliki panjang sekira 20 meter.

Dibangun dengan menggunakan rangka besi bekas kapal, jembatan itu di setiap bulannya selalu di las oleh warga untuk menghindari roboh.

Menurutnya pemerintah setempat kerap menyambangi Jembatan Merah saat Kali Sunter meluap sehingga merendam jembatan yang dapat dilalui dua pengendara sepeda motor sekaligus.

Kondisi Jembatan Merah terkini, Rabu (24/4).
Kondisi Jembatan Merah terkini, Rabu (24/4). (Wartakotalive.com/Rangga Baskoro)

Namun sejak awal dibangun menggunakan dana dan tenaga warga, tak sekalipun Pemkot Jakarta Timur menggelontorkan uang guna merawat jembatan beralaskan pelat baja.

"Kalau datang ya sering, barusan juga datang. Saya enggak tahu dari Kelurahan atau Kecamatan, pokoknya pemerintah. Habis kalau datang cuman foto-foto doang, warga juga males nanya," ujarnya.

Selama ini, Suradi menyebut Pemkot Jakarta Timur hanya memberikan tiang pengukur ketinggian air, itu pun baru dipasang tak sampai satu bulan.

Tak hanya Suradi, Mini (38), warga RW 03 mengaku heran dengan sikap Pemkot Jakarta Timur yang terkesan abai terhadap kondisi Jembatan Merah.

Padahal buruknya kondisi Jembatan Merah terlihat jelas dari lubang, retakan, dan tambalan di sekujur tubuh jembatan yang dulunya beralaskan kayu.

"Ini jembatan penting banget buat warga, kalau ini rusak warga harus mutar lewat Kalimalang. Tapi pemerintah enggak pernah kasih bantuan untuk perbaikan jembatan merah," tutur Mini. (abs)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved