Breaking News:

Tasikmalaya

KPAI Kecam Aksi Guru Pukuli 9 Santriyah di Tasikmalaya, Minta Kemenag Turun Tangan

Kekerasan kembali melanda dunia pendidikan kita. Sejumlah santriyah dianiaya gurunya di sebuah pondok pesantren. Bahkan, ada yang pembulu darah pecah.

Wartakotalive.com/Budi Sam Law Malau
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti (tengah) saat melakukan pengawasan langsung dengan mendatangi sekolah swasta yang muridnya mem-bully guru perempuannya, yang berada di Jakarta Utara, Rabu (27/3/2019). 

Kekerasan kembali melanda dunia pendidikan kita. Sejumlah santriyah dianiaya oleh gurunya di sebuah pondok pesantren. Bahkan, korban sampai ada yang pembuluh darah di kakinya pecah. 

KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengaku sangat prihatin dan mengecam aksi kekerasan guru terhadap sembilan anak atau santriyah di pondok pesantren di kawasan Gunung Tanjung, Tasikmalaya, Jawa Barat, yang terjadi beberapa waktu lalu.

Apalagi kekerasan terjadi di lingkungan pendidikan atas nama menertibkan atau mendisiplinkan peserta didik.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, mengatakan, kekerasan ini tentu saja mencoreng dunia pendidikan di Tanah Air.

"Kekerasan semestinya tidak boleh dilakukan dengan maksud dan tujuan apapun dan oleh siapapun. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi peserta didik, bukan justru menjadi tempat suburnya kekerasan terhadap anak," kata Retno dalam keterangannya kepada Warta Kota, Selasa (23/4/2019).

Fadli Zon Tak Lolos ke Senayan? Yunarto Wijaya Ungkap Fakta Menarik Berikut Ini

Soal Dugaan Kecurangan Pilpres, Habib Rizieq Kecewa Pada Prabowo dan Ingin Lakukan Perlawanan

Anies Baswedan Hapus Kebijakan Ahok, Rumah dan Bangunan di Bawah Rp 1 Miliar Bakal Kena Pajak Lagi

Ia mengatakan, dari informasi yang dihimpunnya diketahui bahwa kekerasan yang menimpa sembilan santri perempuan di pondok pesantren di kawasan Gunung Tanjung, Tasikmalaya, Jawa Barat, terjadi, Kamis (10/4/2019).

Kekerasan katanya diduga dilakukan oleh oknum guru ngaji laki-laki, sekaligus keamanan di pondok pesantren tersebut.

Sembilan santriwati dipukuli dengan kayu pada bagian betis dan paha oleh oknum guru ngaji laki laki tersebut.

"Korban dipukuli karena absen mengaji. Satu kali absen mengaji, korban dipukul tiga kali di bagian betis dan paha. Bahkan salah seorang santriwati mengaku dipukul lima puluh tujuh kali setelah absen sembilan belas kali. Selain lebam di bagian kaki, seluruh korban tidak bisa jalan empat hari hingga mengalami pecah pembuluh darah," papar Retno.

Usai dipukuli, kata Retno, para santriwati tidak diizinkan menghubungi keluarga.

Halaman
123
Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved