Rabu, 8 April 2026

Pemilu 2019

Dubes Australia: Relawan di TPS Aset bagi Demokrasi Indonesia

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan, menilai relawan yang bertugas di TPS merupakan aset bagi keberlanjutan demokrasi di Indonesia.

Foto: ANTARA News/Aria Cindyara
Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan di TPS Taman Suropati Jakarta, Rabu (17/4/2019). 

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan, menilai relawan yang bertugas di TPS merupakan aset bagi keberlanjutan demokrasi di Indonesia.

DUTA Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan, menilai relawan yang bertugas di tempat pemungutan suara (TPS) merupakan aset bagi keberlanjutan demokrasi di Indonesia.

"Saya sangat terkesan dengan banyaknya jumlah relawan yang turut andil dan bertindak sebagai pekerja pemilu dengan berbagai cara. Jutaan relawan bekerja untuk memastikan bahwa pemilu berjalan dengan baik. Itu adalah aset," kata Gary Quinlan saat ditemui di sela-sela kunjungan ke TPS di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (17/4/2019).

Gary Quinlan menjadi salah satu pemantau asing yang mengikuti program kunjungan Pemilu 2019 yang diselenggarakan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Para pemantau asing diajak mengunjungi sejumlah TPS untuk menyaksikan proses pemungutan dan penghitungan suara pada 17 April.

Beda Sikap Ahok BTP dan Prabowo Ketika Hasil Quick Count Lembaga Resmi Tunjukkan Lawan Unggul

Perbedaaan Mendasar Exit Poll dan Quick Count Agar Anda Tidak Bingung, Yakni Sample yang Digunakan

Klaim Menang Real Count Pilpres 2019, Prabowo Sujud Syukur Tanpa Sandiaga

Selain Bawaslu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI juga turut menyelenggarakan program kunjungan pemilu yang melibatkan pemantau dari luar dan dalam negeri.

Pemilihan calon presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 diikuti oleh pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor Urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin, serta pasangan Capres Cawapres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

Pemilihan presiden 2019 diselenggarakan serentak dengan pemilihan anggota DPR RI, DPRD dan DPD.*

Pemilu serentak hemat, tapi membingungkan

Ketua komisi pemilihan umum Myanmar, U Hla Thein, menilai bahwa penyelenggaraan pemilu serentak di Indonesia menghemat waktu, namun cukup membingungkan bagi calon pemilih karena banyaknya kertas suara yang perlu dicoblos.

“Kami melihat kelemahan sistem pemilu serentak ini adalah cukup membingungkan bagi pemilih untuk mencoblos beberapa surat suara dalam satu waktu, namun itu juga jadi kelebihan karena menghemat waktu,” kata Thein kepada ANTARA di tempat pemungutan suara (TPS) 083 Tambora, Jakarta, Rabu (17/4/2019).

Thein dan tujuh anggota komisi pemilihan umum Myanmar turut serta dalam kegiatan kunjungan pemilu Election Visit Program (EVP) 2019 sebagai pemantau asing, yang diselenggarakan KPU RI.

Menteri Keuangan Sri Mulyani: Sudah 93 Persen PNS Terima Pencairan Kenaikan Gaji Januari-April 2019

“Sejauh ini kami melihat sistem pemilu di Indonesia berbeda dengan di negara kami, misalnya, pemilihan parlemen di Myanmar dilakukan terpisah dengan presiden,” kata dia.

Pemilu 2019 di Indonesia menjadi kali pertama pemilihan calon presiden dan anggota legislatif dilakukan secara bersamaan.

Selain mengamati perbedaan sistem penyelenggaraan pemilu di Indonesia dan Myanmar, Thein juga mengomentari pemberian hak pilih kepada disabilitas mental.

“Di negara kami, orang-orang dengan disabilitas mental tidak diizinkan untuk ikut memilih."

Sebagai pemantau Pemilu 2019, delegasi penyelenggara pemilu Myanmar menyaksikan pemungutan suara di tempat pemungutan suara (TPS) 127 Panti Sosial Bina Laras 3 Grogol dan TPS 083 Tambora di Jakarta Barat, serta penghitungan suara di TPS 010 Kuningan Timur, Jakarta Selatan.* (Antara)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved