Breaking News:

Penyelundupan Satwa Dilindungi

Setelah Penyelundupan 41 Ekor Komodo ke Luar Negeri Diungkap Polisi, TNK Pasang 5 CCTV di Kelimutu

Setelah Penyelundupan 41 Ekor Komodo ke Luar Negeri Diungkap Polisi, TNK Pasang 5 CCTV di Kelimutu

Editor:
KOMPAS.com/ACHMAD FAIZAL
Salah satu anak Komodo yang berhasil diselamatkan dari jaringan penjual Satwa Liar - Setelah Penyelundupan 41 Ekor Komodo ke Luar Negeri Diungkap Polisi, TNK Pasang 5 CCTV di Kelimutu. 

"Perdagangan komodo ini lingkupnya internasional, satu ekor komodo bisa dijual dengan harga Rp 500 juta," katanya.

Komodo-komodo tersebut, kata Yusep, diambil dari Pulau Flores, dan sudah melalui beberapa tangan dalam penjualannya dengan harga yang berbeda pula.

Tangan pertama menjual komodo dengan harga Rp 6 juta-Rp 8 juta dan tangan kedua menjualnya dengan harga Rp 15 juta-Rp 20 juta.

Sampai saat ini sudah ada sembilan pelaku yang diamankan polisi dari beberapa kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

"Masih ada satu lagi pelaku utama yang saat ini masih buron," ujarnya.

Tidak hanya menjual komodo, jaringan ini juga terbukti menjual beberapa satwa liar, seperti binturung, kakatua jambul kuning, kakatua maluku, burung nuri bayan, burung perkicing, trenggiling, dan berang-berang.

Tangkap Lima Tersangka

Sementara wartawan Surya melaporkan, Kepolisian Daerah Jawa Timur melalui Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus menangkap lima tersangka yang merupakan sindikat perdagangan satwa dilindungi jaringan luar negeri.

Adapun lima tersangka yang terlibat perdagangan satwa dilindungi yaitu tersangka M Rizalla Satria (24) dan Afandi (32) keduanya merupakan warga Kota Surabaya.

Tersangka VS (32) warga Nusa Tenggara Timur, Andika Wibisiono (35) warga Kecamatan Ambarawa Jawa Tengah dan Rizky (32) mahasiswa asal Kota Surabaya.

Dirreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Ahmad Yusep Gunawan mengatakan perdagangan komodo merupakan tindakan ilegal sesuai tindak pidana konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Para tersangka memburu komodo lalu diperdagangkan. Mereka bahkan membunuh induk komodo dengan cara menembak untuk mengambil telur atau anak komodo.

Tersangka berperan sebagai pemburu komodo, menampung hingga memperdagangkannya ke pasar hewan di Thailand.

"Perdagangan komodo ini patut diduga hingga luar negeri ada di tiga negara masih diselidiki," ujarnya di Mapolda Jatim, Rabu (27/3/2019).

Yusep menjelaskan alur perdagangan satwa komodo dari Indonesia menuju ke luar negeri.

Sindikat perdagangan satwa dilindungi ini mengirim komodo dari Pulau Rinca Flores menuju ke Surabaya.

Mereka memanfaatkan jasa sopir truk untuk mengangkut komodo berukuran kecil menuju ke Pelabuhan Perak Surabaya.

Lalu, komodo itu ditampung di rumah tersangka sembari memasarkannya melalui Facebook hingga transaksi bersama pembeli dari luar negeri.

Komodo itu dititipkan ke sopir travel menuju ke Jakarta. Kemudian, diangkut melalui bus antar provinsi menuju Medan atau Pekanbaru.

Komodo dipindahkan ke sebuah kandang berukuran kecil menggunakan kapal feri menuju Pulau Batam.

Beberapa hari komodo dirawat di Batam, lalu dibawa kurir melalui pelabuhan penyeberangan menggunakan kapal feri ke Malaysia.

Komodo diterima kurir travel di Malaysia diangkut menuju ke perbatasan Thailand.

Sesampainya di sana komodo diterima kurir lalu dibawa menuju ke pasar hewan Thailand.

"Kita masih menunggu hasil forensik patut diduga bahkan lebih dari 41 komodo yang telah keluar diperdagangkan ke luar negeri," ungkap Yusep.

Yusep menambahkan perdagangan komodo sudah berlangsung dari 2016 hingga 2019.

Tersngka VS mendatangkan 41 komodo dari Flores dikirim ke Surabaya.

Lalu, tersangka Afandi merawat 20 ekor komodo dan tersangka Rizalla 18 ekor komodo.

Selanjutnya, satwa dilindungi itu diterima tersangka Rizky empat ekor komodo, BMY (DPO) empat ekor komodo, Andika Wibisiono 10 ekor komodo, dan DNN (DPO) lima ekor komodo.

Tersangka Rizalla menjual komodo melalui Facebook. Dua ekor komodo dibeli Mr Chien dan Mr Wangsel asal Vietnam.

"Tadi telah disampaikan ada satu paspor yang merupakan bukti bahwa yang bersangkutan terhubung dengan jaringan internasional," pungkas Yusep.

Beri Wewenang ke Pemerintah Daerah

Terkait penyelundupan 41 Komodo ke luar negeri, wartawan POS-KUPANG.com di Labuan Bajo, Servan Mammilianus melaporkan, Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) melakukan pendalaman berkaitan dengan informasi tersebut.

Kepala BTNK Awang menjelaskan bahwa pendalaman tersebut melibatkan kepolisian.

"Sedang kami lakukan penyelidikan dan pendalaman bersama Polres Mabar," kata Awang saat dikonfirmasi POS-KUPANG.COM, Rabu (27/3/2019).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Gusti Rinus, mengaku baru mengetahui kejadian tersebut.

"Saya baru tahu informasi ini. Saya masih di Kupang, nanti kami akan rapat dengan pihak TNK," kata Gusti.

Secara terpisah, Wakil Ketua (Waket) DPRD Mabar Fidelis Sukur, menyampaikan bahwa dugaan dan kecurigaan tentang penyelundupan komodo ke luar itu sudah diketahui sejak 3 atau 4 tahun lalu.

"Sudah sejak 3 atau 4 tahun lalu banyak pihak yang teriak ke BTNK, ada LSM dan pihak lainnya terkait kecurigaan adanya komodo yang selundup ke luar negeri. Tetapi BTNK menilai itu bohong sehingga hanya dianggap sebagai angin lalu saja," kata Fidelis.

Dia berharap Pemerintah Kabupaten Mabar bersama BTNK berkoordinasi secara baik untuk menyampaikan hal ini kepada pemerintah pusat.

"Kami minta pemerintah berkoordinasi secara baik dengan BTNK. Temui Menteri Kehutanan dan menteri lain yang mengurus TNK agar persoalan serius ini segera ditangani," kata Fidelis.

Dengan kejadian penyelundupan itu, kata dia, pemerintah pusat sebaiknya memberikan juga kewenangan kepada pemerintah daerah dalam mengelola Taman Nasional Komodo (TNK).

"Makanya penting Pemda juga harus diberikan kewenangan untuk pengelolaan TNK. Kalau tidak maka suatu saat Komodo akan punah," kata Fidelis.

Penulis: Romualdus Pius

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved