Breaking News:

Ini Penyebab 1.403 Pasutri Kota Bekasi Bercerai pada Januari-Maret 2019, Bukan karena Pilpres

KURANG perhatian menjadi salah satu faktor pasangan suami istri (pasutri) di Kota Bekasi mendaftarkan perkara perceraian ke Pengadilan Agama.

dream
Ilustrasi 

Peneliti dalam studi ini mengatakan, stigma bahwa lelaki adalah pencari nafkah utama keluarga, bisa memengaruhi kestabilan rumah tangga. Sehingga, jika suami tidak punya pekerjaan tetap, rumah tangga bisa bermasalah.

3. Putus sekolah menjadi penyebab perceraian

Sebuah survei jangka panjang yang dilakukan sejak 1979 (the National Longitudinal Survey of Youth), menyebut, pasangan tidak lulus sekolah di jenjang SMA, menghadapi pola perceraian yang sama.

Kemungkinan perceraian pada pasangan yang memiliki pendidikan tinggi 30% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak lulus SMA.

Peneliti menganggap, rendahnya tingkat pendidikan akan memengaruhi pemasukan keluarga.

Lima Langkah Penanganan Banjir Jakarta Menurut Pengamat, Gubernur DKI Diminta Berani Menggusur

Sebab, mereka yang tidak lulus SMA cenderung lebih sulit mendapatkan pekerjaan. Sehingga, membuat kebutuhan rumah tangga sulit dipenuhi, dan pernikahan bahagia pun sulit dicapai.

4. Memandang rendah terhadap pasangan

John Gottman, seorang psikolog di Universitas Washington, mendeskripsikan penyebab perceraian yang sangat akurat.

Prediksi tersebut terbagi ke dalam empat hal yang memicu pertengkaran, hingga perpisahan. Karenanya, sebisa mungkin empat hal ini dihindari oleh suami istri:

1. Memandang suami atau istri sebagai seseorang lebih rendah dari diri Anda. Ini kesalahan fatal yang bisa memicu perceraian.

Jokowi: Logika Politik Bisa Saja Tak Masuk, tapi Siapa Bisa Menentang Kehendak Allah SWT?

2. Kritik berlebihan. Misalnya, selalu mengomentari karakter dan perilaku pasangan. Siapa yang tahan menjalani pernikahan jika setiap tindak tanduk dikomentari tanpa pernah dihargai?

3. Bersikap defensif. Bila ada masalah, tidak pernah merasa bersalah dan selalu menyalahkan orang lain ketika menghadapi situasi sulit.

4. Suka memotong pembicaraan. Atau menghentikan percakapan, karena tak ingin mendengar pendapat dari pasangan.

Prabowo Gebrak Podium, Amien Rais: Pemimpin Sejati Harus Bisa Marah

Empat hal di atas merupakan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan selama 14 tahun terhadap 79 pasangan di Amerika.

Bila Anda atau pasangan memiliki 4 ciri perilaku di atas, berusahalah untuk mengubahnya, agar pernikahan bisa bertahan lama.

5. Terlalu mesra saat masih pengantin baru

Terlalu mesra di awal pernikahan, membuat pasangan tidak siap jika kemesraan berganti ketegangan. Inilah penyebab perceraian yang sering luput dari perhatian.

Seorang psikolog bernama Ted Huston mengikuti 168 pasangan selama 13 tahun.

Sejak hari pernikahan dan seterusnya, Ted bersama timnya melakukan banyak wawancara pada setiap pasangan, selama penelitian ini dikerjakan.

Mrs X yang Mayatnya Ditemukan di Tol Jagorawi Rutin Periksa Kandungan

Salah satu temuan dari penelitian ini, pada pasangan yang bercerai setelah 7 tahun menikah atau lebih, cenderung memperlihatkan kemesraan yang berlebihan, dibandingkan pasangan yang rumah tangganya berjalan langgeng dan bahagia.

Pasangan sangat bahagia di awal pernikahan, memiliki kecenderungan untuk bercerai, karena mereka tidak mampu menghadapi ketegangan yang terjadi dalam pernikahan.

Percaya atau tidak, pasangan yang melangsungkan pernikahan dengan dosis keromantisan dalam batas normal (tidak kurang atau berlebihan), rumah tangga mereka cenderung lebih awet.

6. Enggan menyelesaikan masalah

Keengganan menyelesaikan masalah dan cenderung menghindar dari konflik adalah salah satu penyebab perceraian.

Sebuah penelitian tahun 2013 yang dipublikasikan di Jorunal of Marriage and Family, menemukan bahwa sikap suami yang sering menghindari penyelesaian masalah, menjadi penyebab perceraian paling sering terjadi.

Kesimpulan ini berdasarkan wawancara dari para peneliti, kepada 350 pasangan pengantin baru yang tinggal di Michigan, Amerika Serikat.

Bowo Sidik Pangarso Bilang Disuruh Nusron Wahid Siapkan 400 Ribu Amplop Serangan Fajar, Ini Kata KPK

Studi lain yang dipublikasikan pada 2014 di jurnal Communication Monographs, menyatakan bahwa pasangan yang berada pada kebiasaan enggan menyelesaikan masalah, merasa tidak bahagia di dalam pernikahannya, terutama jika satu pihak menekan dan pihak lainnya hanya diam.

Paul Scrodht, pemimpin dalam studi ini mengatakan, “Kebiasaan ini susah dihilangkan. Karena masing-masing pihak, berpikir bahwa bukan dirinyalah penyebab masalah.”

Solusinya, suami istri perlu berkontribusi dalam menyelesaikan setiap masalah yang terjadi. Caranya, menggunakan manajemen strategi dalam menyelesaikan konflik.

7. Memandang pernikahan secara negatif

Pada 1992, Gottman dan ilmuwan lain di Universitas Washington mengembangkan sebuah prosedur, yang mereka sebut sebagai Wawancara Sejarah Lisan.

Dalam prosedur ini, mereka mewawancarai beberapa pasangan, tentang berbagai aspek berbeda dalam hubungan mereka.

Dengan menganalisis hasil percakapan mereka, para ilmuwan bisa memprediksi, pasangan mana yang sedang ‘berjalan’ menuju ke perceraian.

Pemkot Bekasi Lelang Enam Jabatan Tinggi Pratama, Ini 13 Syaratnya

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan tahun 2000 di Journal of Familt Psychology, Gottman dan para koleganya melakukan studi pada 95 pasangan pengantin baru, pada prosedur Wawancara Sejarah Lisan.

Hasilnya, nilai dari setiap pasangan bisa mengukur kekuatan dan kelemahan dalam pernikahan mereka. Nilai yang didapat, berdasarkan pertimbangan dari hal-hal sebagai berikut:

1. Perhatian yang ditunjukkan kepada pasangan;

Lagi, Hasil Survei Terbaru Nyatakan Elektabilitas Prabowo-Sandi Lebih Tinggi dari Jokowi-Maruf Amin

2. Memandang diri mereka sebagai tim, dan bukan individual. Dan seberapa besar setiap orang memandang pernikahan sebagai sebuah penyatuan;

3. Seberapa besar kecenderungan setiap individu untuk jujur dan terbuka pada pasangannya;

4. Negativitas;

Prabowo: Kita Harus Menang dengan Selisih di Atas 25 Persen, Kubu 01: Halusinasi

5. Kekecewaan yang dirasakan dalam pernikahan;

6. Seberapa banyak pasangan menjabarkan rumah tangga mereka sebagai sebuah kekacauan.

Dari keenam hal di atas, tiga hal pertama menjadi kekuatan agar pernikahan bisa bertahan lama. Tiga hal berikutnya menjadi penyebab perceraian yang seringkali tidak disadari. (*)

Penulis: Muhammad Azzam
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved