Media Diminta Menyaring Isu Politisasi Agama Jelang Pemilu

Ia menuturkan, hal yang membuat simbolisasi agama jadi sedemikian marak adalah karena ruang politik kita digiring ke ekspresi perasaan.

istimewa
diskusi bertema “Pilpres dan Politisasi Simbol Agama”, Kamis (4/4/2019) di Cikini, Jakarta Pusat 

Menjelang pemilu yang tinggal hitungan hari, suhu politik terus memanas. Peran media massa dalam menyaring isu politisasi agama harus diperkuat.

Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Romo Benny Susetyo mengatakan, politisasi simbol agama tidak hanya terjadi di Indonesia.

Menurutnya, tokoh agama memiliki kekuatan lebih besar daripada tokoh politik, hal inilah yang digunakan untuk politik.

“Sekarang terjadi politik pembelahan, sehingga secara ideologis terjadi pemecehan. Sekarang antar pertemanan jadi konflik gara-gara agama digunakan sebagai alat politik. Ini berbahaya,” ujar Romo Benny dalam diskusi bertema “Pilpres dan Politisasi Simbol Agama”, Kamis (4/4/2019) di Cikini, Jakarta Pusat

Ia mengatakan, saat ini yang terpenting adalah bagaimana media massa mencoba mengajak masyarakat untuk memiliki budaya kritis.

“Bagaimana media mendidik masyarakat tidak lagi menggunakan politisasi agama. Jangan diberi ruang politisasi simbol agama. Berani tidak media massa tidak ekspos isu agama?, ujarnya lagi.

Kemudian, kata dia, harus ada literasi media, terutama media sosial. Sebab saat ini seseorang tanpa data bisa menuduh orang lain. “Agama itu urusan personal, urusannya dengan tuhan, tidak ada urusan dengan politik,” ujar Romo Benny.

Ia mengatakan, media massa harus melakukan pertaubatan. Menurut Benny, media massa harus jadi komunitas pemutus kata yang kritis.

“Media massa harus jadi tempat pertarungan ide gagasan, bukan untuk merusak karakter personal,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan Ujang Komarudin, Pengamat Politik dan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR).

Menurut Ujang, ketika agama dijadikan ideologi yang kuat digunakan untuk politik, maka hal itu sah dan boleh.
“Tapi ketika agama dijadikan alat legitimasi politik ini jadi masalah. Yang terjadi sekarang seperti itu. Kita harus mendudukkan secara benar. Kita sedih bagaimana agama dibenturkan dengan politik, kita sedih ketika agama jadi alat untuk legitimasi politik,” kata Ujang.

Halaman
12
Editor: Ahmad Sabran
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved