Viral SMP Sawer Guru, KPAI: Gurunya yang Diperiksa

Meski begitu, Retno mengatakan pihaknya tak bisa menyalahkan sekolah dan guru yang bersangkutan apalagi siswa yang terlibat dalam video ini.

Viral SMP Sawer Guru, KPAI: Gurunya yang Diperiksa
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, mendatangi dan melakukan pengawasan langsung ke SDIT BM di Kabupaten Bogor, yang diberitakan sudah menghukum push-up siswinya GNS karena belum membayar SPP hingga mengalami trauma. 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Anggie Lianda Putri

WARTA KOTA, GAMBIR - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta pihak sekolah dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk memeriksa guru yang ramai dimedia sosial.

Pasalnya guru dalam video tersebut hanya terdiam tanpa perlawanan saat disawer oleh anak didiknya sendiri.

Hal ini disampaikan komisioner bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti saat menanggapi video siswa yang viral dimedia sosial, sejak minggu lalu.

"Kalau dari sisi guru kan harus diperiksa. Guru ini menguasai kelas atau tidak? kalau tidak ya butuh dilatih," ujar Retno saat dihubungi, Selasa (26/3/2019).

Ia mengatakan dari pola pelecehan yang dilakukan siswa, bisa disimpulkan bahwa perbuatan yang mengkesampingkan adab ini hanya menyasar guru tertentu yang yang dianggap lemah karena tak akan marah bila dilecehkan oleh anak didiknya sendiri.

"Sebenarnya anak - anak ini tidak melakukan pada guru lain. Jadi hanya pada guru yang dianggap bisa dimainkan, guru ini akan memaafkan, guru ini tidak akan marah. Jadi anak - anak ini sudah mempelajari dulu guru mana yang sebenarnya tidak akan marah. Nah itu kemudian mereka merencanakan,"
Ungkap Retno.

Dalahsatu hal yang mendasari tingkahlaku para siswa berbuat ini, tak lain agar bisa populer di media sosial.

"Mereka ini anak - anak milineal yang sangat dekat dengan medsos. Nah mereka tuh tahu banget di media sosial sebuah video viral jika (konten) videonya seperti apa sehingga dia kemudian melawan guru. Nah ini kan sebuah perbuatan yang tidak pantas dan pasti akan mengejutakan banyak orang," kata Retno.

Meski begitu, Retno mengatakan pihaknya tak bisa menyalahkan sekolah dan guru yang bersangkutan apalagi siswa yang terlibat dalam video ini.

"Ini dilatarbelakangi oleh pola asu dirumah. Kita eggak bisa nyalahin sekolah karena yang pertama karakter anak dibangun adalah di lingkungan rumah," kata Retno. (M l6)

Penulis: Anggie Lianda Putri
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved