Depok Belum Bebas dari Kekerasan yang Dilakukan Kalangan Anak

Yang ironis, sejumlah aksi pencurian dengan cara kekerasan alias pembegalan yang melibatkan anak-anak remaja.

Depok Belum Bebas dari Kekerasan yang Dilakukan Kalangan Anak
Warta Kota/Feryanto Hadi
Ilustrasi pembegalan yang melibatkan anak-anak. 

Sejak awal tahun, Kota Depok dihiasi banyak cerita tentang serangkaian aksi kekerasan yang melibatkan anak, baik sebagai pelaku maupun korban.

Yang paling menyita perhatian adalah sejumlah aksi pencurian dengan cara kekerasan alias pembegalan yang melibatkan anak-anak remaja.

Selain kawanan begal yang rata-rata masih berusia sekolah, tercatat ada sejumlah balita dan anak sekolah dasar (SD) yang menjadi korban kekerasan terhadap anak.

Mulai dari balita yang dianiaya hingga tewas oleh pengasuhnya sendiri, anak dibanting oleh ayah tiri hingga meregang nyawa, sampai anak kecil yang diancam akan dibunuh ayah kandung karena tak terima diceraikan istrinya.

Terbaru, seorang siswi SD di Kecamatan Pancoran Mas ditemukan tewas di toilet sekolah. Sebelum tewas, gadis malang itu sempat berteriak, 'kenapa mamah tinggalin aku?'

Terkait sejumlah aksi kekerasan terhadap anak tersebut, Wali Kota Depok, Mohammad Idris Abdul Shomad, mengakui bahwa Depok memang belum terbebas dari masalah kekerasan anak.

"Mungkin sekarang kita terenyuh, gelisah, dan mengusap dada kita atas kejadian-kejadian yang menimpa anak-anak kita. Tetapi, tidak cukup kita mengelus dada, tidak cukup kita terharu dan merasa sedih. Kita harus melakukan langkah-langkah strategis untuk anak-anak kita," ujar Idris dalam deklarasi Sekolah dan Pesantren Ramah Anak di Balai Kota Depok, kemarin.

Idris mengatakan, sekolah sebagai tempat menimba ilmu dapat berperan untuk mencegah anak terlibat aksi kekerasan dengan menerapkan program Sekolah Ramah Anak (SRA). Sekolah harus dapat memacu anak semangat belajar, merasa aman, dan nyaman.

"Bagaimana kita menciptakan suasana bahagia dalam kegiatan belajar-mengajar, menciptakan suasana keceriaan dalam belajar di lingkungan sekolah anak-anak kita sehingga dapat memberikan dampak positif kepada kita semua," katanya.

Dijelaskan Idris, Kota Depok merupakan penyandang Kota Layak Anak (KLA) kategori Nindya. Meski demikian, tidak berarti wilayah penyangga Ibu Kota Negara itu tidak memiliki masalah anak.

"Bukan berarti Depok ini sudah bebas dari permasalahan-permasalahan anak. Ini harus kita pahami. Kadang-kadang, 'katanya Depok kota layak anak, kok masih banyak sih kekerasan terhadap anak'," bilang Idris.

"Kita semua, warga masyarakat, termasuk lembaga dan institusi, termasuk pengusaha harus ikut mewujudkan Depok Kota Layak Anak."

"Sudah ada beberapa perusahaan yang deklarasi untuk mewujudkan perusahaan layak anak atau ramah anak."

"Pelayanannya, keramahannya, infrastrukturnya, harus ramah anak," terangnya.

Idris menyampaikan, dunia pendidikan bukan segala-galanya, tetapi dunia pendidikan adalah awal dari segala-galanya.

Dia berpesan, agar jangan sampai di tingkat kecamatan atau kelurahan sudah layak anak, tetapi di bidang pendidikan tidak ramah anak.

Tingkatkan apa yang sudah baik, entah di sekolah maupun pesantren.

"Kalau ingin dikenang oleh anak-cucu kita, maka kita harus berbuat sesuatu untuk mereka saat ini. Tidak ada kata terlambat."

"Harus kita upayakan dan harapan kita bisa terrealisasi dalam kehidupan, khususnya dalam pendidikan anak," katanya.

Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved