Pemilu 2019

Survei Litbang Kompas Sebut Jokowi-Maruf 49, Prabowo-Sandi 37, Bagaimana Metodologinya?

si ibu itu lagi ke ladang atau ke pasar, tenaga survei kami, ya, harus menunggu dan mewawancarai ibu itu,” ujar Kristanto.

Survei Litbang Kompas Sebut Jokowi-Maruf 49, Prabowo-Sandi 37, Bagaimana Metodologinya?
kompas.com
Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan jarak elektabilitas pasangan Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi makin tipis.. 

Jenis pertanyaan bervariasi, mulai dari pertanyaan tertutup, terbuka, semitertutup, hingga semiterbuka. Adapun proses wawancara diperkirakan memakan waktu 30-40 menit.

Selain itu, responden akan melakukan simulasi pemilihan umum. Responden diminta memilih salah satu pasangan calon. Hasil pemilihan akan dimasukkan ke dalam amplop yang kemudian disegel.

VIDEO: Amanda Rawles Terpaksa Pakai Koyo dan Dipijit Usai Syuting Running Girl

Bertanya kepada responden soal pilihan pasangan calon presiden itu, termasuk pertanyaan sensitif, sehingga kami melakukan simulasi pencoblosan,” ujar Kristanto.

Ia menjelaskan, dengan simulasi ini, tingkat akurasi pun meningkat.

”Saat responden langsung ditanya, pilih presiden siapa? Biasanya yang tidak menjawab atau rahasia itu sebanyak 20-30 persen. Tetapi, dengan menggunakan model simulasi pemilihan umum, jumlah yang tidak menjawab atau rahasia itu berkurang hanya menjadi 12-15 persen,” ujar Kristanto.

Survei itu dilakukan selama periode dua minggu mulai 24 Februari 2019 hingga 7 Maret 2019.

Adapun jumlah tenaga survei yang turun ke lapangan berjumlah sekitar 250 orang. Mereka kebanyakan adalah mahasiswa, baik universitas negeri maupun swasta, mulai semester empat ke atas. Satu tenaga survei mendapat tugas mewawancarai delapan responden.

VIDEO: Sopir Angkot di Tangerang Tusuk Temannya Sampai Mati Hanya Karena Rebutan Penumpang

Untuk mengecek kinerja tenaga survei dan menjaga kualitas jawaban responden, Litbang Kompas akan kembali menghubungi responden terkait untuk ditanyakan apakah betul sudah diwawancarai tenaga survei untuk survei elektabilitas.

”Kami menelepon kembali responden untuk mengecek apakah tenaga survei ini benar-benar melakukan wawancara atau berbohong. Jika berbohong, hasil wawancara dengan responden itu akan kami hapus dan tidak kami pakai. Jadi, hasil survei harus betul-betul mencerminkan data di lapangan,” ujar Kristanto.

Setelah itu, semua data hasil survei dikumpulkan dan diolah oleh Litbang Kompas. (*)

Sumber: kompas.id

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Ahmad Sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved