Breaking News:

Subsidi Tarif LRT Terlalu Mahal dan Diusulkan Jadi Transportasi Wisata Saja oleh DPRD

Tarif keekonomian kereta cepat Light Rail Transit (LRT) senilai Rp 41.000 per orang dinilai Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta terlalu mahal.

Penulis:
Editor: Gede Moenanto
Warta Kota
Tarif Kereta LRT akan disubsidi, tapi nilai subsidi dinilai terlalu fantastis. 
Tarif keekonomian kereta cepat Light Rail Transit (LRT) senilai Rp 41.000 per orang dinilai Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Fraksi Partai Golkar, Ashraf Ali, itu sangat mahal.
Dirinya mengusulkan agar LRT dijadikan sebagai wahana wisata bagi warga Ibu Kota. 
Nyinyirnya komentar Ketua Fraksi Partai Golkar itu merujuk besaran subsidi tarif LRT yang digelontorkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mencapai Rp 330 miliar kepada PT LRT. 
Subsidi tersebut digunakan untuk menutupi besaran subsidi tarif LRT Kelapa Gading-Velodrome, yakni sebesar Rp 35.000 per orang.
Apabila Pemprov DKI Jakarta ingin memangkas tarif LRT dari semula Rp 41.000 per orang menjadi senilai Rp 6.000 per orang.
Besaran subsidi tarif LRT tersebut katanya sangat tidak masuk akal, lantaran berdasarkan pemaparan PT LRT, kereta cepat sepanjang 5,8 kilometer itu hanya akan dinikmati sebanyak 14.225 orang penumpang per hari.
"Itu terlalu mahal. Jadikan saja objek wisata buat jalan-jalan masyarakat saja," ungkapnya kepada wartawan usai rapat koordinasi antara Pemprov DKI Jakarta, PT Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT), PT LRT dengan anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta di gedung DPRD DKI Jakarta, Gambir, Jakarta Pusat pada Senin (18/3/2019).
Pendapatnya tersebut katanya sejalan dengan para anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta lainnya, mengingat kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara merupakan kawasan elit yang tidak membutuhkan subsidi.
"Kalau LRT subsidi segitu kita beratlah untuk setuju," ungkapnya.
Ditemui bersamaan, Direktur PT LRT, Alan Tandiono menyebutkan, apabila tarif keekonomian LRT dipatok sebesar Rp 41.000 per orang, Alan menyebut pihaknya membutuhkan subsidi sebesar Rp 330 miliar agar tarif LRT bisa turun sampai Rp 6.000 per orang.
"Sehingga kami membutuhkan subsidi Rp 330 miliar dengan rincian Rp 120 miliar untuk listrik dan Rp 210 miliar untuk sarana dan prasarana," terangnya.
Asumsi besaran subsidi tersebut merujuk jumlah penumpang LRT yang tidak akan terlampau tinggi. 
"Kami berasumsi jumlah penumpang hanya sebesar 14.225 orang perhari. Kami pun dengan jarak yang pendek seperti itu asumsinya pada jam sibuk bisa 50 persen dari itu," jelasnya.
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved