Selasa, 14 April 2026

Bisakah LRT Kelapa Gading-Rawamangun Beroperasi Mulai April 2019?

Bisakah kereta cepat light rail transit (LRT) rute Kelapa Gading-Rawamangun beroperasi April 2019? Berapa pula tarif naik LRT dan MRT di Jakarta?

Warta Kota/Rangga Baskoro
Rangkaian gerbong LRT Jakarta di Stasiun Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (25/2). 

Walau Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum menetapkan besaran tarif kereta cepat Light Rail Transit (LRT) rute Kelapa Gading, Jakarta Utara-Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur, ijin teknis LRT segera diterbitkan.

Ijin tersebut menjadi dasar LRT supaya dapat beroperasi melayani warga ibu kota.

Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Wijatmoko. Ia mengatakan, ijin teknis LRT Fase 1 tersebut akan rampung pekan ini bertepatan dengan penetapan besaran tarif oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Penumpang LRT di Stasiun Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (25/2).
Penumpang LRT di Stasiun Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (25/2). (Warta Kota/Rangga Baskoro)

Menurut Sigit Wijatmoko, diperkirakan izin teknis sudah diterbitkan dari PTSP maupun Kementerian Perhubungan pada 20 Maret 2019.

"Sehingga pekan ini, atau awal pekan depan, LRT sudah bisa beroperasi," kata Sigit Wijatmoko.

FBR Akui Masih Ada Anggota Dukung Prabowo-Sandi dan Tak Akan Memecatnya

Apabila ijin teknis telah dikantongi PT LRT selaku pengelola LRT Kelapa Gading-Velodrome, sekaligus tarif LRT telah disepakati Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, LRT dapat beroperasi pada April 2019.

Pembahasan Tarif

Pembahasan terkait besaran tarif kereta cepat Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT) serta LRT tengah dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Direktur Keuangan PT MRT Jakarta Tuhiyat, Direktur PT LRT Alan Tandiono serta Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Santoso.

Lewat pembahasan tersebut, Sigit Wijatmoko berharap besaran tarif dapat ditetapkan pada pekan depan.

Usulan tarif MRT, seperti yang disampaikan Sigit Wijatmoko, berkisar antara Rp 8.000 hingga 10.500 per penumpang, sedangkan traif LRT seharga Rp 41.000 per penumpang.

Warga naik kereta MRT saat uji coba untuk warga Jakarta di Stasiun Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2019). PT MRT Jakarta melakukan uji coba Moda Raya Terpadu (MRT) mulai hari ini. Pada hari pertama sebanyak 4 ribu penumpang yang telah memiliki tiket, dilayani untuk menjajal moda teranyar di ibu kota ini.
Warga naik kereta MRT saat uji coba untuk warga Jakarta di Stasiun Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2019). PT MRT Jakarta melakukan uji coba Moda Raya Terpadu (MRT) mulai hari ini. Pada hari pertama sebanyak 4 ribu penumpang yang telah memiliki tiket, dilayani untuk menjajal moda teranyar di ibu kota ini. (Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha)

Tarif tersebut belum mendapatkan subsidi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Besaran tarif MRT maupun LRT akan jauh lebih murah jika ada tambahan subsidi.

"Tarif LRT tanpa subsidi pun telah dihitung, yakni sebesar Rp 41.000 per penumpang. Tarif tinggi karena pendeknya jalur LRT, hanya 5,8 km. Itu belum subsidi," kata Sigit Wijatmoko kepada wartawan, termasuk Warta Kota, di Gedung DPRD DKI Jakarta, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (18/3/2019).

Warga naik kereta MRT saat uji coba untuk warga Jakarta di Stasiun Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2019). PT MRT Jakarta melakukan uji coba Moda Raya Terpadu (MRT) mulai hari ini. Pada hari pertama sebanyak 4 ribu penumpang yang telah memiliki tiket, dilayani untuk menjajal moda teranyar di ibu kota ini.
Warga naik kereta MRT saat uji coba untuk warga Jakarta di Stasiun Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2019). PT MRT Jakarta melakukan uji coba Moda Raya Terpadu (MRT) mulai hari ini. Pada hari pertama sebanyak 4 ribu penumpang yang telah memiliki tiket, dilayani untuk menjajal moda teranyar di ibu kota ini. (WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA)

Ditemui bersamaan, Direktur PT LRT Alan Tandiono menyebutkan, apabila tarif keekonomian LRT dipatok sebesar Rp 41.000 per orang, pihaknya membutuhkan subsidi sebesar Rp 330 miliar agar tarif LRT turun sampai Rp 6.000 per orang.

"Kami membutuhkan subsidi Rp 330 miliar dengan rincian Rp 120 miliar untuk listrik dan Rp 210 miliar untuk sarana dan prasarana," jelas Alan Tandiono.

Asumsi besaran subsidi tersebut merujuk jumlah penumpang LRT yang tidak akan terlampau tinggi.

"Kami berasumsi jumlah penumpang hanya sebesar 14.225 orang per hari dengan jarak yang pendek seperti itu," jelasnya.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved