Breaking News:

PGI Tanggapi NU yang Tidak Gunakan Istilah Kafir untuk Non Muslim

Menurut PGI, istilah kafir terhadap seseorang atau kelompok non-Muslim, dapat mengganggu persaudaraan masyarakat sebangsa dan setanah air.

Editor: Ahmad Sabran
Kompas.com
Ketua PGI Pendeta Hendriette Hutabarat(Fabian Januarius Kuwado) 

Salah satunya menyangkut status non-Muslim dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Peserta Munas menilai, Pancasila sebagai dasar negara telah berhasil menyatukan rakyat Indonesia yang plural, baik etnis, suku dan agama.

Di bawah payung Pancasila, seluruh warga negara yang berbeda-beda itu adalah setara.

Hal ini dinilai selaras dengan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW melalui Piagam Madinah untuk mempersatukan pendudik Madinah yang juga berbeda-beda latar belakangnya.

Berangkat dari itu, peserta Munas NU memutuskan agar untuk menyebutkan umat non-Muslim, tidak dengan kata 'kafir'.

"Kata kafir menyakiti sebagian kelompol non-Muslim yang dianggap mengandung unsur kekerasan teologis," kata Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali, melalui siaran pers.

Para kiai pun menyepakati tidak menggunakan kata kafir untuk menyebut umat non-Muslim, melainkan istilah muwathinun, yakni warga negara.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini Kata PGI Soal Keputusan NU Tak Sebut Umat Non-Muslim Kafir", Penulis : Fabian Januarius Kuwado
Editor : Diamanty Meiliana

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved