Go-Jek Disarankan Keluar dari Zona Perang Tarif

Menurutnya, Go-Jek sudah punya desain dan ekosistem bisnis yang lebih matang, sehingga memiliki konsumen dan mitra pengemudi yang loyal.

Go-Jek Disarankan Keluar dari Zona Perang Tarif
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Sejumlah pengemudi Go-Jek Bekasi menuju ke kawasan Sudirman, Selasa (22/3) siang. 

PENGAMAT menyarankan Go-Jek keluar dari zona perang tarif yang dinilai gencar dilakukan Grab, dan tak terpancing untuk terlibat semakin dalam.

Karena, hal itu dinilai akan mengancam kelangsungan usaha serta menghambat inovasi dalam investasi teknologi.

"(Perang tarif berkepanjangan) sangat tidak sehat. Mengganggu inovasi karena profit turun akibat banyak bakar uang di promo tarif, dan dampaknya akan merugikan mitra pengemudi juga,” kata Harryadin Mahardika, pengamat industri digital dari Universitas Indonesia, di Jakarta, Minggu (3/2/2019).

Terungkap! Ini Penyebab 34 Kapal Nelayan di Pelabuhan Muara Baru Hangus Terbakar pada Pekan Lalu

Menurutnya, Go-Jek sudah punya desain dan ekosistem bisnis yang lebih matang, sehingga memiliki konsumen dan mitra pengemudi yang loyal.

Keunggulan ini, katanya, merupakan modal yang jauh lebih berharga ketimbang ikut berusaha menguasai pasar lewat strategi perang tarif.

Selain unggul dalam inovasi pengembangan layanan, faktor lain yang membuat Go-Jek lebih menarik, menurut Harryadin, adalah fleksibilitas manajemen dalam menerima aspirasi mitra pengemudi.

Amien Rais: Kalau Sampai Curang, Kita Doakan KPU Laknat, Hidupnya Sengsara Dunia Akhirat

Kemampuan menjaga hubungan dengan mitra pengemudi, menurutnya, telah menjadi pembeda sehingga menciptakan rasa nyaman.

"Lihat saja, Go-Jek relatif lebih minim mendapat komplain," ujarnya.

Sebaliknya, Harryadin menilai, belakangan Grab malah cenderung dianggap menjalankan bisnis seperti tanpa kompromi oleh mitra pengemudinya.

Setelah Nodai ABG, Kakek Berumur Setengah Abad Selipkan Uang Rp 150 Ribu Lalu Pergi

Hubungan yang terjalin dinilai tidak berjalan seperti kemitraan, bahkan malah terkesan terlalu kaku dalam operasionalnya.

Halaman
123
Editor: Yaspen Martinus
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved