Breaking News:

Tahun Politik Berdampak Ruang Perkantoran dan Pusat Belanja Kosong

Pada tahun politik 2019 sepertinya memberikan dampak terhadap tingkat hunian perkantoran dan pusat belanja.

Editor:
Kondisi kawasan perkantoran di Kuningan yang masuk ke kawasan bisnis Segitiga Emas (Sudirman-Thamrin-Kuningan) di Jakarta terus dipenuhi gedung-gedung baru, Selasa (29/1/2013). Pasar perkantoran di Jakarta tahun 2014, diprediksi mengalami perlambatan pertumbuhan akibat kontraksi permintaan. (KOMPAS/IWAN SETIYAWAN) 

"Yang cukup menantang di mal kelas middle-up ini, vacancy-nya nyaris 20 persen, kalau yang lain di bawah 10 persen," kata Anton Sitorus.

Yansita Menangis Saat Diminta Rp 5 Juta untuk Urus Sertifikat

Secara keseluruhan, tingkat kekosongan untuk semua jenis mal berada di angka 12 persen.

Menurut dia, tingginya kekosongan mal kelas middle-up karena kualitasnya yang bisa dibilang tanggung.

Ini yang menyebabkan tidak banyak peritel berminat menyewa di pusat perbelanjaan tersebut.

"Mungkin karena secara kelas ini nanggung, bukan bagus tapi bukan jelek juga. Jadi peritel agak reluctant masuk ke mal kelas middle-up ini," imbuhnya.

Anton mencontohkan, mal kelas menengah adalah Atrium Senen, Pejaten Village, dan Bassura City.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi ramainya pengunjung di suatu mal, antara lain dari konsepnya, penyewa, dan layout mal tersebut.

10 Smartphone Menjadi Perhatian dan Perbincangan Pada Hari Ini

Secara umum, jumlah suplai ruang baru untuk semua jenis mal di Jakarta pada 2018 seluas 8.000 meter persegi.

Bila dibandingkan dua tahun sebelumnya, pasokan ini terus menurun signifikan. Tahun 2016 hampir 150.000 meter persegi dan tahun 2017 seluas 100.000 meter persegi.

Jika dikumulasikan dari tahun 2010, total pasokan pusat perbelanjaan hingga tahun ini seluas 3,1 juta meter persegi.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved