Tiga Emak-emak Ujaran Kebencian ke Jokowi Ditahan di Polres Karawang

Tiga perempuan atau emak-emak yang melakukan penghinaan atau ujaran kebencian ke Presiden Joko Widodo kini sudah ditahan dan berada di Polres Karawang

Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Andy Pribadi
Warta Kota/Muhammad Azzam
Kapolres Karawang AKBP Nuredy Irwansyah Putra. 

Laporan Wartawan Warta Kota, Muhammad Azzam

BEKASI, WARTA KOTA -- Tiga perempuan atau emak-emak yang melakukan penghinaan atau ujaran kebencian ke Presiden Joko Widodo kini sudah ditahan dan berada di Polres Karawang.

"Sudah dilakukan penahanan tanggal 25 Februari pukul 22.00 perempuan berinisial ES, IP, dan CW. Sekarang ada disini (Polres Karawang)," ujar Kapolres Karawang AKBP Nuredy Irwansyah Putra saat dikonfirmasi, Rabu (27/2/2019).

Nuredy mengatakan ketiga perempuan berinisial ES, IP, dan CW ditahan di Polres Karawang atas pelaporan dari masyarakat, salah satunya LPBH NU terkait video dugaan kampanye hitam atau ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo.

Dalam video itu disebut, jika Jokowi terpilih tidak ada azan dan LGBT bakal legal.

Nuredy menjelaskan peristiwa perekaman terjadi 8 Februari 2019 sementara video itu diupload pada 19 Februari 2019.

"Kini sudah ada 10 saksi yang kami periksa, mulai dari elemen masyarakat, tokoh agama dan masyarakat mengetahui video tersebut termasuk bapak-bapak yang diajak bicara ibu-ibu ini dalam video itu," katanya.

Nuredy mengungkapkan belum bisa memaparkan hasil pemeriksaan ketiga tersangka dan juga para sakasi. Pasalnya, pihaknya sampai saat ini masih melakukan pemeriksaan lebih dalam.

"Ketiga tersaksa kita periksa, ES dan IP mereka yang bicara dan CW yang rekam atau upload. Semua sedang diperiksa secara maraton termasuk dengan barang buktinya agar secepatnya dilimpahkan ke kejaksaan penuntut umum," ungkapnya.

Ketiganya diancam Pasal 28 Ayat (2) jo Pasal 45A Ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dan/atau Pasal 14 atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

"Mereka wajib didampingi kuasa hukum dan silahkan juga jika mereka mau mengajukan penangguhan penahanan," ucapnya.

Sebelumnya beredar video dugaan kampanye hitam dan ujaran kebencian kepada Presiden Joko Widodo.

Dalam video itu kedua emak-emak berbicara dengan bahasa sunda kepada seorang bapak-bapak pemilik rumah di depan rumahnya.

Keduanya mengatakan Jokowi akan melarang azan berkumandang jika menjadi Presiden.

"Moal aya deui sora azan, moal denge suara azan kumaha tak abah, ijtima ulama pilihana, 2019 kalau dua periode Jokowi jadi lagi moal aya sora azan, moal aya budak ngaji, moal aya nu pake tiung, awewe jeung awewe meunang kawin, lalaki jeung lalaki meunang kawin. mun jokowi meunang abah bisa rasakeun nanti eta," kata perempuan di video yang viral.

Artinya adalah:

"Suara azan di masjid akan dilarang, tidak akan ada lagi yang memakai hijab, anak-anak tidak boleh ngaji, kita harus taat ijtima ulama. Lihat saja nanti kalau Jokowi jadi Presiden lagi perempuan sama perempuan boleh kawin, laki-laki sama laki-laki boleh kawin".

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved