Perang Tarif Ojek Daring Dinilai Bisa Ancam Industri Digital

Tanpa inovasi, perang tarif dipastikan akan terus berlanjut, dan ini tidak sejalan dengan visi misi sebuah industri digital pada umumnya.

Perang Tarif Ojek Daring Dinilai Bisa Ancam Industri Digital
Warta Kota/Henry Lopulalan
Sejumlah taksi dan ojek online berhenti atau ngetem menunggu penumpang saat bubaran perkantoran di Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (3/1/2019). 

PENGAMAT memperkirakan perang tarif yang berkepanjangan bisa mengancam keberlangsungan bisnis industri digital, khususnya penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi.

"Kondisi saat ini sudah tidak sehat bagi industri digital penyedia transportasi daring. Mereka harus sadar bahwa cepat atau lambat akan mengancam keberlangsungan bisnisnya," kata Maman Abdurahman, pengamat ekonomi industri dari Universitas Padjajaran, kepada pers di Jakarta, Rabu (27/2/2019).

Menurutnya, persaingan sehat yang seharusnya dilakukan para aplikator transportasi daring, Grab dan Go-Jek, adalah beradu inovasi dan strategi peningkatan kualitas pelayanan bagi konsumen.

Empat Fakta Pria Mengamuk di Musala Sambil Teriak Takbir, Mengaku Sebagai Titisan Syekh Siti Jenar

Dengan demikian, menurut Maman, konsumen benar-benar menerima manfaat nyata dari kemampuan masing-masing aplikator dalam berinovasi, dan tetap bisa terlayani dengan baik.

Tanpa inovasi, perang tarif dipastikan akan terus berlanjut, dan ini tidak sejalan dengan visi misi sebuah industri digital pada umumnya.

"Aplikator yang minim inovasi tentunya akan hanya mengandalkan kemampuan finansial untuk menciptakan perang tarif," ulasnya.

Jadwal Lengkap Pertandingan Kualifikasi Piala AFC U-23 2020

Selama ini, kata Maman, Grab sebagai aplikator yang memulai strategi perang tarif memang cukup ampuh menarik minat pasar. Tapi, dampak positifnya hanya akan dirasakan secara jangka pendek.

"Jor-joran tarif murah memang dilakukan guna menarik pelanggan sebanyak mungkin, tapi tak bisa dilakukan selamanya," ujarnya.

Jika terjadi dalam jangka panjang, lanjut Maman, perang tarif justru berpotensi menghasilkan satu pemain dominan di pasar. Pemain dengan kemampuan finansial paling kuat tentunya akan memenangkan perang tarif tersebut, namun tak berarti bisa meraup untung besar. Situasi seperti ini justru tak baik bagi iklim usaha di Indonesia.

Galeri Foto Indonesia Juara Piala AFF U-22 2019, Indra Sjafri: Tuhan Jawab Doa Kita Semua

"Kalau ada duopoli dan mereka tidak berkolusi, maka yang terjadi adalah perang harga. Mereka akan adu kuat modal sampai salah satunya habis," tuturnya.

Halaman
12
Editor: Yaspen Martinus
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved