Kritik Gunung Sampah, Aktivis Kamping Satu Malam di TPA Cipeucang

Pemerintah Kota Tangerang Selatan seharus menutup TPA Cipeucang sejak 6 tahun hang lalu, karena sistem pengolahan sampahnya

Kritik Gunung Sampah, Aktivis Kamping Satu Malam di TPA Cipeucang
Dokumentasi Yapelh
Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (Yapelh) melakukan kamping selama satu malam di seberang gunung sampah TPA Cipeucang, Serpong. 

Laporan Wartawan Warta Kota, Zaki Ari Setiawan

TANGERANG, WARTA KOTA - Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (Yapelh) punya cara untuk memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2019 dengan melakukan kamping selama satu malam di seberang gunung sampah TPA Cipeucang, Serpong.

Kegiatan yang dilakukan pada Rabu 20 Februari lalu melibatkan berbagai pihak yang fokus pada lingkungan hidup yakni Bank Sampah Sungai Cisadane, Cisadane Ranger Patrol, Suci Daya Pendaki Indonesia Korwil Tangerang, Komunitas Pendaki Indonesia Korwil Jakarta Raya, Komunitas Pendaki Gunung Indonesia Korwil Jabodetabek, dan Komunitas pendaki Indonesia Korwil Medan.

Dalam keterangan tertulisnya, Koordinator Yapelh Indonesia, Herman Felani menjelaskan, kegiatan ini juga dilaksanakan dalam rangka memperingati tragedi letusan gunung sampah yang terjadi di TPA Leuwigajah 14 tahun silam.

Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (Yapelh) melakukan kamping selama satu malam di seberang gunung sampah TPA Cipeucang, Serpong.
Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (Yapelh) melakukan kamping selama satu malam di seberang gunung sampah TPA Cipeucang, Serpong. (Dokumentasi Yapelh)

Dalam tragedi letusan gunung sampah itu, ratusan jiwa menjadi korban. Bahkan, dua kampung hilang akibat dahsyatnya ledakan.

"Oleh sebab itu, kami mendesak terhadap Pemerintah daerah Kota Tangerang Selatan dan Pemerintah Provinsi Banten untuk segera mencarikan solusi terhadap TPA Cipeucang yang berdiri gagah di bibir sungai Cisadane tersebut, jangan sampai kejadian yang pernah terjadi pada 14 tahun silam di TPA lewuigajah terulang kembali,” kata Herman setelah dikonfirmasi, Sabtu (23/2/2019).

Dilanjutkan Herman, Pemerintah Kota Tangerang Selatan seharus menutup TPA Cipeucang sejak 6 tahun hang lalu, karena sistem pengolahan sampahnya dianggap masih menggunakan "open dumping".

Pengolahan sampah "open dumping" sendiri sudah tidak diperbolehkan lagi dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

“Kami mempunyai pemikiran mungkin pemkot Tangsel akan menciptakan wahana baru berupa tempat kunjungan wisata sampah ataupun ingin menciptakan gunung sampah yang secara kebetulan di indonesia belum ada, sehingga akan mendatangkan turis lokal maupun turis dari mancanegara,” ujar Herman.

Selain tidak ramah lingkungan, kondisi TPA Cipeucang sendiri dinilai sudah sangat

Suasana gunung sampah TPA Cipeucang, Serpong, yang dikhawatirkan Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (Yapelh).
Suasana gunung sampah TPA Cipeucang, Serpong, yang dikhawatirkan Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (Yapelh). (Dokumentasi Yapelh)

memprihatinkan.

Pada tahun 2018 tim Investigasi Yapelh Indonesia menemukan gunung sampah tersebut masih di kelilingi oleh pepohonan. Namun saat ini pohon pembatas antara sampah dengan aliran sungai tersebut sudah habis terbawa derasnya arus sungai Cisadane.

“Sehingga ketika air sungai Cisadane meluap sampah yang ada di bibir sungai terbawa arus hingga ke hilir sungai Cisadane. Hal itu terjadi karena tidak adanya pagar pembatas antara gunung sampah dengan sungai,” jelasnya.

Penulis: Zaki Ari Setiawan
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved