Pilpres 2019

PMII DKI Jakarta Tegaskan Tolak Fanatisme dan Politik Identitas di Pilpres 2019

Suasana tahun politik yang mulai memanas jelang pemilihan presiden dan wakil presiden rawan menimbulkan gejolak sosial di masyarakat.

PMII DKI Jakarta Tegaskan Tolak Fanatisme dan Politik Identitas di Pilpres 2019
Warta Kota/Feryanto Hadi
Ketua Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Daud Azhari saat memberikan pernyataan di Jakarta, jelang keberangkatan rombongan kader PMII DKI Jakarta menuju Muspimnas PMII di Boyolali, Jumat (22/2/2019). 

SUASANA tahun politik yang mulai memanas jelang pemilihan presiden dan wakil presiden rawan menimbulkan gejolak sosial di masyarakat.

Apalagi, masyarakat banyak disuguhi oleh informasi-informasi tidak benar atau hoax yang dilakukan oknum untuk memperkeruh situasi dan menimbulkan kebencian.

Ketua Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Daud Azhari meminta kepada generasi muda untuk tidak terlibat dalam pertarungan hoax tersebut.

"Kami tegaskan kepada kaum milenial, khususnya kader dan anggota PMII di manapun berada, agar memerangi hoax yang bisa menimbulkan perpecahan di masyarakat," ujar Daud Azhari saat memberikan pernyataan di Jakarta, jelang keberangkatan rombongan kader PMII DKI Jakarta menuju Muspimnas PMII di Boyolali, Jumat (22/2/2019).

Daud juga menyerukan agar kader dan anggota PMII agar menghindari fanatisme dan politik identitas.

Viral, Pilot Citilink Memberikan Pengumuman dengan Cara Unik Bikin Penumpangnya Tertawa

Ria Ricis Dapat Rp 43 Miliar dari Youtube, Ini Reaksinya Saat Diberitahu Akunnya Dibanned Permanen

Live Streaming Arema FC Vs Persib Bandung, Masih Berlangsung Arema Unggul 2-1

"Politik identitas, seperti diketahui rentan memecah belah persatuan bangsa, dan bukan hal yang mustahil bisa menimbulkan konflik sosial horizontal," ungkapnya.

Terkait sejumlah anggota maupun alumni PMII yang telah mendeklarasikan mendukung paslon tertentu, Daud mengungkapkan hal itu diperbolehkan selama tidak membawa nama PMII secara kelembagaan.

"Semua tahu PMII itu itu di bawah organisasi Nahdlatul Ulama. Hak kader atau anggota jika memilih calon presiden dan wakil presiden yang mereka yakini. Tapi kami tidak mengusung PMII secara kelembagaan karena sesuai AD/ART tidak boleh berpolitik praktis," ungkapnya.

"Kami sebagai santri sami'na wa atho'na terhadap kiai-kiai kita. Kiai yang kami maksud tentu kiai kami yang background organisasinya PMII. Jadi, semuanya pasti tahu pilihan kader PMII nanti ke siapa," imbuh Daud.

Tetapi, kata Daud, apapun hasil pilpres nanti, pihaknya mendukung siapapun pemimpin yang terpilih.

"Tapi apapun hasil Pilpres 17 April nanti, menjadi kemenangan kami. Karena 17 April ini menjadi hari lahir PMII. Kami tidak ada masalah siapapun yang menang nanti," tandasnya

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved