Genjot Industri Perikanan Papua, Nelayan Mimika Diberdayakan

asil rata-rata tangkapan puluhan nelayan yang berasal dari suku Kamoro ini ada di kisaran 1-4 ton ikan per bulan.

Genjot Industri Perikanan Papua, Nelayan Mimika Diberdayakan
istimewa
PT Freeport Indonesia bekerjasama dengan Koperasi Maria Bintang Laut (KMBL) 

Demi menggenjot industri perikanan di Papua, berbagai program digelar untuk memberdayakan nelayan suku Kamoro dan nelayan dari suku lain di pesisir kabupaten Mimika.

Melalui program community development perusahaan, PT Freeport Indonesia bekerjasama dengan Koperasi Maria Bintang Laut (KMBL) yang bernaung di bawah Keuskupan Mimika dan Dinas Perikanan Kabupaten Mimika.

Kolaborasi dalam memberdayakan nelayan dan penguatan industri perikanan di Kabupaten Mimika ini dilakukan secara terstruktur mulai tahun 2005.  Sejumlah program yang dilaksanakan mencakup perikanan tangkap serta perikanan budidaya.

“Potensi perikanan di pesisir Kabupaten Mimika cukup tinggi, namun belum termanfaatkan secara penuh akibat kendala akses transportasi dan pasar, sarana produksi, dan rendahnya kapasitas tangkap. Inilah salah satu alasan kami dalam melalukan program pendampingan terhadap para nelayan yang ada di pesisir pantai Kabupaten Mimika,” ujar Yohanes Bewahan, Manajer Community Economic Development PT Freeport Indonesia dalam siaran persnya yang diterima Jumat (22/2/2019).  

Untuk perikanan tangkap, beberapa program yang dilaksanakan meliputi pelatihan pengolahan ikan hasil tangkap sebagai bahan pangan, pelatihan perbaikan motor tempel, pelatihan pembuatan perahu nelayan menggunakan bahan fiberglass, pelatihan perbaikan jaring, serta bantuan alat tangkap nelayan.

Sementara untuk perikanan budidaya, beberapa program dilaksanakan di antaranya mencakup pelatihan budidaya ikan air tawar serta pelatihan budidaya kepiting bakau.

Menurut Yohanes, setelah beberapa tahun melakukan pendampingan dan kolaborasi dengan beberapa mitra, hasil tangkapan serta hasil budidaya para nelayan telah meningkat. Sektor perikanan menjadi salah satu sektor ekonomi yang yang menunjukkan perbaikan.

Yohanes menambahkan kolaborasi yang dilakukan membawa hasil yang cukup baik. Hal itu merujuk pada hasil rata-rata tangkapan puluhan nelayan yang berasal dari suku Kamoro ini ada di kisaran 1-4 ton ikan per bulan.

Dikatakannya, jika hanya dilakukan dukungan untuk meningkatkan kemampuan pengangkapan ikan maupun budidaya ikan, ketika hasil tangkapan dan budidaya naik, justru akan timbul masalah baru.

“Sebagai contoh, setelah kami lakukan dukungan pelatihan dan bantuan alat tangkap serta sarana pendukung lainnya, hasil tangkapan meningkat cukup pesat. Ini tentunya hasil yang sangat diharapkan, tapi kalau kita berhenti di situ saja justru akan lahir masalah baru, karena bisa jadi pasar tidak siap untuk menyerap hasil tangkapan sehingga bisa membuat harga jatuh atau bahkan hasil tangkapan terbuang percuma,” tambah Yohanes.

Salah satu nelayan yang mengikuti program pembinaan Daniel Bipuaro menceritakan bahwa pendampingan yang dilakukan oleh Freeport dan mitranya terhadap para nelayan sangat bermanfaat.

Menurutnya selain kemampuan dalam mencari ikan, para nelayan mendapatkan pengetahuan lain mengenai cara mengolah ikan hasil tangkapan agar nilainya meningkat.

“Kami tidak hanya dibantu untuk menangkap lebih banyak ikan, tapi kami juga diajari untuk mengolah hasil tangkapan agar bisa dijual di pasar dan harganya tinggi. Selain itu kami juga dilatih untuk  mengelola keuangan keluarga agar kami tidak kesulitan,” tutur Daniel yang juga merupakan kepala kampung Ohotya di Mimika.

Daniel menjelaskan bahwa hasil pelatihan yang diberikan oleh Freeport sangat diperlukan, karena menurutnya ilmu penangkapan ikan membantu para nelayan di Kabupaten Mimika untuk menangkap ikan baik di laut maupun beberapa sungai yang ada di wilayahnya. Menurutnya selain menangkap ikan, para nelayan juga mendapatkan pelatihan untuk melakukan usaha budidaya ikan.

“Teman-teman kami beberapa ada yang menangkap ikan di pesisir pantai ada juga yang menangkap ikan di sungai. Teman-teman yang lain juga ada yang memelihara ikan, biasanya ikan nila dan lele. Ikan itu ada yang dipelihara menggunakan kolam atau keramba jaring apung,” tambah Daniel.

Editor: Ahmad Sabran
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved