Mantan Dirut Bulog Angkat Bicara Soal Beras Busuk 6000 Ton di Sumsel

"Termasuk soal First In First Out (FIFO), itu sudah ada SOP-nya. Kaitan dengan pengadaan tentu juga ada syarat yang harus dipenuhi.

Mantan Dirut Bulog Angkat Bicara Soal Beras Busuk 6000 Ton di Sumsel
Sripo
Temuan beras busuk di Sumsel 

Direktur Utama Perum Bulog periode 2009-2014 Sutarto Alimoeso menyoroti adanya potensi pelanggaran dalam penanganan beras di gudang sehingga menimbulkan kasus beras turun mutu sebanyak 6.000 ton di Sumatera Selatan.

"Sebabnya bisa bermacam-macam, paling berat kalau ada ketidakpatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ada," kata Sutarto dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Jumat.

Sutarto mengatakan selama ini Bulog sudah memiliki SOP yang mendetail terkait penyediaan beras mulai dari pengadaan hingga penyaluran sehingga seharusnya penyebab terjadinya beras busuk itu dapat segera ditelusuri.

"Termasuk soal First In First Out (FIFO), itu sudah ada SOP-nya. Kaitan dengan pengadaan tentu juga ada syarat yang harus dipenuhi. Jadi bisa ditelusuri mulai dari sana, terpenuhi tidak SOP-nya," katanya seoperti dikutip dari Antaranews.com

Sutarto ikut mengusulkan adanya upaya audit internal oleh Satuan Pengawasan Intern (SPI) secara menyeluruh atas kasus ini, termasuk pengenaan sanksi apabila terdapat ketidakpatuhan terhadap SOP yang berlaku.

"Bisa dimulai dari gudangnya, kemudian atasan kepala gudangnya, karena atasan bertanggungjawab melakukan pemeriksaan dan koordinasi. Jadi semua harus diaudit dan diperiksa. Pengenaan sanksi juga tergantung tingkat kesalahan," ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Tri Wahyudi Saleh menjelaskan pihaknya selama ini telah menjalankan SOP sesuai dengan aturan terkait penyaluran beras dari dan ke luar gudang.

Selain itu, tambah dia, waktu keluar beras disesuaikan dengan waktu masuk dan perawatan secara berkala juga telah dilakukan untuk menjaga kondisi sanitasi gudang antara lain dengan pembukaan secara rutin setiap pagi. 

"Jadi kondisinya memang sudah ada. Yang seperti itu sedang kita perbaiki tahap-tahapannya. Itu sudah kita pisahkan," katanya.

Pengamat pertanian dari IPB, Prof Dwi Andreas menuturkan beras busuk yang ada di Sumatera Selatan adalah hal yang biasa terjadi karena mekanisme "first in first out" tidak lancar. Ia bahkan memprediksi persentase beras busuk akan terjadi di Gudang-gudang Bulog lain di Indonesia.

Ia berharap tidak sampai terjadi stok beras busuk yang banyak seperti di negara tetangga. "Kalau kita lihat, di Thailand itu pernah sampai jutaan ton rusak, akhirnya dijual dengan harga sangat murah, dan sebagian dibuang," ujarnya saat dihubungi

Sebelumnya, Tim Sergab TNI AD menemukan sekitar 6.000 ton beras tidak layak konsumsi dan busuk di gudang Bulog Sub Divre setempat di wilayah Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan.

Ribuan ton beras tersebut diduga merupakan beras pengadaan 2015 dan sebagian besar ditemukan dalam keadaan tidak layak dan berkutu.

Editor: Ahmad Sabran
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved