Breaking News:

Perusahaan Teknologi Belum Maksimal Atasi Pelecehan Melalui Media Sosial

Perusahaan-perusahaan teknologi di Silicon Valley Amerika belum melakukan upaya melindungi korban pelecehan melalui media sosial.

Editor:
Istimewa
ILUSTRASI Media Sosial 

Perusahaan-perusahaan teknologi di Silicon Valley Amerika belum melakukan upaya melindungi korban pelecehan melalui media sosial.

WARTA KOTA, PALMERAH--- Direktur Eksekutif Twitter Inc, Jack Dorsey, mengatakan, perusahaan-perusahaan teknologi di Silicon Valley Amerika, termasuk perusahaannya, belum melakukan upaya yang cukup untuk melindungi korban pelecehan melalui media sosial.

Adanya pelecehan di media sosial, Dorsey juga menyebut hal itu sebagai kegagalan besar.

Dalam wawancara melalui Twitter dengan Kara Swisher, Dorsey berkicau, dia akan memberi perusahaannya nilai C sebagai tanggapan atas pertanyaan Swisher terkait tanggung jawab teknologi.

Aprindo Berharap Pertumbuhan Industri Ritel di Indonesia Mencapai Dua Digit Tahun Ini

Swisher adalah salah satu pendiri laman berita teknologi Recode.

"Kami membuat kemajuan, tapi tidak terfokus, dan masih belum cukup," tulisnya sebagai tanggapan atas pertanyaan Swisher, seperti dilansir Antaranews.com, Rabu (14/2/2019).

"Mengubah pengalaman masih belum bermakna. Dan kami masih menempatkan sebagian besar beban kepada para korban pelecehan (itu kesalahan besar)," tulisnya.

Twitter dan jejaring media sosial Facebook Inc. telah menuai kritikan atas adanya pelecehan lewat media sosial, akun palsu, dan pemberitaan yang tidak akurat di layanan mereka.

DJ Crissoo: Garap Musik Genre RnB dan Cari Vokalis Mirip Raisa

Twitter telah melakukan investasi besar untuk memperbaiki hal yang Dorsey gambarkan sebagi kesehatan bersama Twitter.

Dorsey mengatakan, ia tidak menyukai cara Twitter yang cenderung memicu kemarahan, menghadirkan pola pikir jangka pendek, menjadi ruang yang menggemakan, dan memotong-motong pembicaraan.

Selain itu, menurut Dorsey, kurangnya keragaman di Twitter Inc. juga tidak menyelesaikan permasalahan itu.

Menurut dia, upaya Twitter untuk bekerja melawan "otomatisasi dan kampanye terkoordinasi", bekerja sama dengan sejumlah lembaga pemerintah membuat perusahaan itu berada di posisi yang lebih baik dalam memerangi ancaman kesalahan informasi dalam pemilu presiden AS 2020 mendatang.

Sejumlah badan intelijen AS sebelumnya melaporkan bahwa Rusia menggunakan media sosial untuk membuat bingung para pemilih.

Moskow, di sisi lain, membantah tuduhan itu.

Penyebab Harga Tiket Pesawat Mahal, Adanya PPN dan Dynamic Pricing, Simak Penjelasannya

Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved