Mantan Ketua MK Nilai KPK Kini Merasa Jemawa

KPK dinilai terlalu merasa jemawa ketika berhasil menangkap pelaku korupsi dengan cara Operasi Tangkap Tangan.

Mantan Ketua MK Nilai KPK Kini Merasa Jemawa
Warta Kota/Adhy Kelana
Penyidik KPK menunjukkan barang bukti uang hasil Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Kementerian PUPR di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (30/12). 

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) dinilai terlalu merasa jemawa ketika berhasil menangkap pelaku korupsi dengan cara Operasi Tangkap Tangan (OTT).

Menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva, kondisi seperti itu kini sedang melanda KPK.

Sebab, ketika melakukan OTT, mereka langsung mengundang banyak media. Ditambah, tim yang melakukan tangkap tangan disambut gembira oleh masyarakat.

Nama Cawagub Batal Diserahkan, Salah Satu Kandidat Diam-diam Datangi Anies Baswedan

"Saya bilang itu terjadi (jemawa). Ketika melakukan OTT semua media diundang dan yang melakukan OTT itu ditepuki tangan oleh masyarakat," kata Hamdan Zoelva di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).

Bila kondisi demikian terus dipertahankan, Hamdan Zoelva khawatir malah membahayakan penegakkan keadilan. Sebab, mungkin saja orientasi KPK bergeser menjadi pengharapan apresiasi dari masyarakat.

Padahal, kondisi tersebut seharusnya dijauhi oleh para penegak hukum, lantaran sudah mencampuri urusan penegakkan keadilan dengan perasaan hawa nafsunya.

Ratna Pandita Rugi Ratusan Juta Gara-gara Dituding Terlibat Prostitusi Online Artis

"Nah, itu enggak boleh. Penegak hukum itu harus steril. Orang memutus pengadilan itu bukan saja karena dibayar dengan uang, tapi dia merasa bangga karena dia menjatuhi hukuman dengan putusan yang tinggi," paparnya.

Mantan Ketua MK periode 2013-2015 ini juga menyoroti penegakkan hukum KPK dalam perkara di pengadilan. Sebab, ada anggapan setiap perkara yang diajukan jaksa KPK, selalu berakhir dengan persetujuan oleh hakim pengadilan. Tidak ada yang lolos ataupun bebas.

Hamdan Zoelva khawatir, para hakim yang memutuskan perkara, tidak merasa bebas memutus dengan sebenar-benarnya, lantaran sebelumnya mereka menilik tren perkara yang diajukan KPK.

Mayat Perempuan Penuh Luka Mengambang di Sungai Cisadane Tangerang

Ia khawatir, hakim pengadilan menjadi pelayan dari apa pun yang diinginkan lembaga anti-rasuah itu.

"Seperti saya ini termasuk yang prihatin dalam penegakan hukum KPK. Karena para hakim dan pengadilan itu seluruh perkara kalau diajukan oleh jaksa yang diajukan KPK tidak ada yang selamat," bebernya.

"Saya khawatir hakim memutuskan tidak bebas. Saya khawatir betul sehingga apa yang dituntut, apa yang dimau KPK itu diputus pengadilan," sambungnya. (*)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved