News

Depok Tunda Buang Sampah ke TPPAS Lulut Nambo

tertundanya pembuangan sampah ke TPPAS Lulut-Nambo disebabkan karena kurang teliti dalam perjanjian.

Depok Tunda Buang Sampah ke TPPAS Lulut Nambo
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Awak truk sampah di Depok sudah beroperasi kembali Rabu (23/8/2017) 

Pemerintah Kota Depok sedianya akan mulai membuang sebagian sampah ke Tempat Pengelolaan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Lulut-Nambo di Desa Lulut, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, mulai tahun 2019.

Namun, rencana itu urung jadi kenyataan.

Awak truk sampah di Depok sudah beroperasi kembali Rabu (23/8/2017)
Awak truk sampah di Depok sudah beroperasi kembali Rabu (23/8/2017) (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

TPPAS Lulut-Nambo memang dijadwalkan baru beroperasi pada tahun 2020. Namun, belum lama ini Pemerintah Kota Depok memohon kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil agar diizinkan membuang sampah mulai tahun ini karena kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipayung sudah melebihi kapasitas.

Bahkan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok telah siap membayar tarif yang dikenakan TPPAS Lulut-Nambo, yakni Rp 138.000 per ton. Depok berencana buang sampah 500-700 ton ke sana tiap harinya dengan total uang yang harus disetor perhari mencapai Rp 98 juta.

Wali Kota Depok Mohammad Idris Abdul Shomad mengatakan, tertundanya pembuangan sampah ke TPPAS Lulut-Nambo disebabkan karena kurang teliti dalam perjanjian.

"Bukan gagal, (tetapi) ditunda. Pembangunan fisik untuk mesin pengelolaan waste to energy baru selesai akhir tahun ini. Sesuai dengan Perda yang ada, TPA Nambo baru bisa dimanfaatkan kalau mesin pencacah itu sudah selesai," ujar Idris di Kecamatan Sawangan, Rabu (13/2/2019).

Dengan tertundanya pendistribusian sampah ke Lulut-Nambo, Kota Depok pun terancam munculnya timbunan sampah di mana-mana. Apalagi, kondisi TPA Cipayung seluas 11 hektar kian memprihatinkan. Tinggi gunungan sampah mencapai 20 meter.

Untuk menyiasati hal itu, Pemerintah Kota Depok menyiapkan sejumlah pilihan alternatif sembari menunggu TPPAS Lulut-Nambo siap.

"Alternatifnya, kita sudah konek dengan Bogor Kota untuk bisa membuang sebagian sampah ke sana. Yang kedua, kita diberikan mesin pencacah (sampah), uji coba dari Kementerian PUPR. Insya Allah dalam waktu dekat akan saya resmikan," ucapnya.

Dia menambahkan, mesin pencacah sampah dari Kementerian PUPR itu akan dioperasikan di TPA Cipayung. Mesin ini disebut mampu mengubah sampah menjadi energi listrik (waste to energy) dengan kapasitas tiga ton perhari.

Saat ini populasi Kota Depok mencapai hampir 2 juta penduduk dengan perkiraan jumlah sampah yang dihasilkan mencapai 1.300 ton perhari. Itu berarti tiap penduduk menghasilkan timbunan sampah sekitar 0,6 kilogram.

TPPAS Lulut-Nambo sendiri berada di atas lahan seluas 55 hektare, terdiri dari lahan pemerintah Kabupaten Bogor 15 hektare dan sisanya adalah lahan milik Perhutani yang bisa digunakan atas dasar pinjam pakai.

Awalnya, TPPAS itu hanya untuk menangani sampah dari Kabupaten Bogor. Namun seiring perkembangan, Kota Bogor dan Kota Depok menyatakan turut dalam pemanfaatan TPPAS ini. Karena itu lokasi pengolahan dikembangkan menjadi skala regional dengan kapasitas operasi sebesar 1.500 ton/hari.

Belakangan, kapasitas pengolahan sampah ditingkatkan menjadi 1.800 ton/hari setelah pemerintah Kota Tangerang Selatan juga menyatakan turut memanfaatkan TPPAS. (gps)

Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved